Minggu, 25 Oktober 2026

MATERI BIMBINGAN KLASIKAL (BK) KELAS VII

KOMUNIKASI EFEKTIF

Communication Skills, Dialogue, and Active Listening: Unveil

Nama Guru: Yulian Wilyanus

Mata Pelajaran: Bimbingan Konseling

Fase/Kelas: D / VII

Materi: Komunikasi Efektif

A. CAPAIAN LAYANAN

Pada akhir Fase D, peserta didik mampu memahami dan mengembangkan potensi diri secara positif, memiliki kesadaran diri, mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab, serta menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama, moral, dan norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam layanan ini, peserta didik diarahkan untuk memahami pentingnya komunikasi efektif, mengembangkan keterampilan berbicara dan mendengarkan, menghargai pendapat orang lain, serta membangun hubungan yang positif dengan teman, guru, dan keluarga.

B. TUJUAN LAYANAN

Setelah mengikuti layanan bimbingan klasikal, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian komunikasi efektif.

  2. Mengidentifikasi ciri-ciri komunikasi yang baik.

  3. Mempraktikkan cara berbicara dengan jelas, sopan, dan percaya diri.

  4. Menunjukkan sikap mendengarkan secara aktif dan menghargai pendapat orang lain.

  5. Menyelesaikan kesalahpahaman melalui komunikasi yang santun.

  6. Menerapkan komunikasi efektif dalam kehidupan sehari-hari.

C. PENDEKATAN PEMBELAJARAN MENDALAM

1. Mindful Learning (Pembelajaran Berkesadaran)

Tujuan: Peserta didik menyadari cara berkomunikasi, memahami perasaan diri sendiri dan orang lain, serta mempertimbangkan dampak perkataannya.

Kegiatan:

  • Guru mengajak peserta didik melakukan jeda sejenak untuk menenangkan diri sebelum memulai pembelajaran.

  • Peserta didik mengingat pengalaman ketika merasa senang karena didengarkan atau kecewa karena diabaikan.

  • Peserta didik mengidentifikasi kebiasaan komunikasi yang perlu diperbaiki.

  • Peserta didik berlatih berhenti sejenak, berpikir, kemudian berbicara dengan santun.

Pertanyaan refleksi:

  • Apakah saya sering memotong pembicaraan orang lain?

  • Apakah saya sudah menggunakan kata-kata yang sopan?

  • Bagaimana perasaan orang lain ketika saya berbicara?

2. Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna)

Tujuan: Peserta didik menghubungkan materi komunikasi efektif dengan pengalaman nyata di sekolah, rumah, dan lingkungan pertemanan.

Kegiatan:

  • Guru menyampaikan kasus kesalahpahaman antarteman.

  • Peserta didik mendiskusikan penyebab masalah dan cara menyelesaikannya.

  • Peserta didik menghubungkan komunikasi efektif dengan kerja kelompok, hubungan keluarga, dan penggunaan media sosial.

  • Peserta didik menyusun komitmen untuk menerapkan satu kebiasaan komunikasi positif setiap hari.

Contoh kegiatan bermakna:

Seorang siswa merasa tersinggung karena pesan singkat temannya terdengar kasar. Alih-alih langsung marah atau membalas dengan kata-kata buruk, ia bertanya dengan sopan mengenai maksud pesan tersebut. Dengan demikian, kesalahpahaman dapat dicegah.

3. Joyful Learning (Pembelajaran Menyenangkan)

Tujuan: Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar peserta didik aktif, berani berbicara, dan mampu bekerja sama.

Medium

Kegiatan 1: Pesan Berantai

Peserta didik membentuk kelompok. Guru memberikan pesan kepada siswa pertama, lalu pesan diteruskan dari satu siswa ke siswa berikutnya. Siswa terakhir menyampaikan pesan yang diterimanya.

Diskusi: Mengapa pesan bisa berubah? Apa pentingnya menyampaikan informasi dengan jelas?

Mastering Communication Skills: Active Listening and Dialogu

Kegiatan 2: Bermain Peran (Role Play)

Peserta didik berpasangan untuk memeragakan situasi berbeda pendapat, meminta bantuan, atau meminta maaf.

Diskusi: Perilaku komunikasi apa yang sudah baik? Apa yang perlu diperbaiki?

Communication, Empathy, and Listening in K-12 Education - Education Briefs | Think Academy US

Kegiatan 3: Dua Bintang Satu Saran

Setiap peserta didik memberikan dua apresiasi atas komunikasi positif temannya dan satu saran perbaikan dengan bahasa yang santun.


D. MATERI PEMBELAJARAN

1. Pengertian Komunikasi Efektif

Komunikasi efektif adalah proses menyampaikan dan menerima pesan dengan jelas sehingga orang yang berkomunikasi dapat memahami maksud satu sama lain dengan baik.

Komunikasi tidak hanya dilakukan melalui kata-kata, tetapi juga melalui ekspresi wajah, nada suara, gerakan tubuh, tulisan, dan media digital.

Contoh:

Ketika seorang siswa tidak memahami tugas dari guru, ia berkata, “Maaf, Bu/Pak, saya belum memahami petunjuk tugasnya. Bolehkah dijelaskan kembali?”

Kalimat tersebut menunjukkan komunikasi yang sopan, jelas, dan bertujuan memperoleh pemahaman.

2. Ciri-Ciri Komunikasi Efektif

CLASSROOM RULES CARDS - Etsy

a. Berbicara dengan jelas

Menggunakan kata-kata yang mudah dipahami dan menyampaikan maksud secara teratur.

Contoh: “Tolong kumpulkan tugas kelompok besok sebelum pelajaran dimulai.”

Mastering Social and Small Talk Skills

b. Mendengarkan secara aktif

Memperhatikan orang yang berbicara, tidak memotong pembicaraan, dan memberikan tanggapan yang sesuai.

Contoh: Mendengarkan teman menjelaskan pendapatnya sampai selesai sebelum menjawab.

عميل غير مدعوم - Canva

c. Menggunakan bahasa yang santun

Memilih kata-kata yang sopan dan tidak menghina, mengejek, atau merendahkan orang lain.

Contoh: Mengatakan, “Menurut saya, ada cara lain yang bisa kita coba,” bukan “Pendapatmu salah dan tidak berguna.”

Wokeness in Schools: Students' Perspectives on Education Bal

d. Menghargai perbedaan pendapat

Memahami bahwa setiap orang dapat memiliki pemikiran yang berbeda.

Contoh: Menerima usulan teman dan mendiskusikan pilihan terbaik bersama.

3. Manfaat Komunikasi Efektif

Komunikasi efektif memiliki banyak manfaat, antara lain:

  • Mempererat persahabatan.

  • Mencegah kesalahpahaman.

  • Meningkatkan kerja sama dalam kelompok.

  • Membantu menyelesaikan konflik secara damai.

  • Meningkatkan rasa percaya diri.

  • Menciptakan suasana belajar yang nyaman.

  • Membantu peserta didik menyampaikan kebutuhan dan perasaan secara tepat.

4. Cara Menerapkan Komunikasi Efektif

Peserta didik dapat menerapkan langkah-langkah berikut.

  1. Pikirkan pesan sebelum berbicara. Pastikan perkataan sesuai dengan tujuan.

  2. Gunakan bahasa yang sopan. Hindari ejekan, hinaan, dan kata-kata kasar.

  3. Dengarkan dengan sungguh-sungguh. Berikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.

  4. Perhatikan nada suara dan ekspresi. Hindari nada yang membentak atau merendahkan.

  5. Sampaikan perasaan dengan tepat. Gunakan kalimat yang menjelaskan perasaan dan kebutuhan.

  6. Pastikan pesan dipahami. Tanyakan kembali apabila ada hal yang belum jelas.

  7. Gunakan media digital secara bertanggung jawab. Periksa isi pesan sebelum mengirimkannya dan hindari menyebarkan informasi yang belum benar.

5. Contoh Komunikasi Efektif dalam Kehidupan Sehari-hari

Situasi 1: Berbeda pendapat dengan teman

  • Komunikasi kurang efektif: “Pokoknya pendapatku yang paling benar!”

  • Komunikasi efektif: “Saya memahami pendapatmu. Bagaimana kalau kita membandingkan kedua ide agar mendapat keputusan terbaik?”

Situasi 2: Meminjam alat tulis

  • Komunikasi kurang efektif: “Hei, pinjam pensilmu!”

  • Komunikasi efektif: “Bolehkah saya meminjam pensilmu sebentar? Terima kasih.”

Situasi 3: Tidak sengaja menyinggung teman

  • Komunikasi kurang efektif: “Kamu terlalu sensitif!”

  • Komunikasi efektif: “Maaf, perkataan saya tadi membuatmu tidak nyaman. Saya akan lebih berhati-hati.”

Situasi 4: Berdiskusi dalam kelompok

Ketika teman sedang menyampaikan ide, anggota kelompok mendengarkan sampai selesai, mengajukan pertanyaan dengan sopan, dan memberikan tanggapan tanpa merendahkan.

6. Penguatan Nilai Agama

Allah Swt. mengajarkan umat manusia untuk berkata dengan perkataan yang baik.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 70:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

Ayat ini mengajarkan bahwa komunikasi harus dilakukan dengan perkataan yang benar, jujur, dan bertanggung jawab.

Rasulullah saw. juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan: Sebelum berbicara atau mengirim pesan, pikirkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan tidak menyakiti orang lain.


E. ASESMEN (PENILAIAN)

Asesmen dilakukan untuk mengetahui pemahaman, keterampilan, dan sikap peserta didik setelah mengikuti layanan BK.

1. Asesmen Diagnostik

Dilakukan sebelum pembelajaran untuk mengetahui kebiasaan komunikasi peserta didik.

Pertanyaan pemantik:

  1. Apa yang kamu lakukan ketika teman berbeda pendapat denganmu?

  2. Bagaimana sikapmu ketika orang lain sedang berbicara?

  3. Apa yang kamu lakukan ketika terjadi kesalahpahaman dengan teman?

2. Asesmen Formatif: Pilihan Ganda

Pilihlah jawaban yang paling tepat.

Kuis Komunikasi Efektif

0/10 dijawab

Pilih satu jawaban untuk setiap soal, lalu periksa hasilnya.

1. Komunikasi efektif adalah komunikasi yang ...

2. Ketika teman menyampaikan pendapat, sikap yang tepat adalah ...

3. Jika berbeda pendapat dengan teman, sebaiknya kita ...

4. Contoh komunikasi efektif kepada guru adalah ...

5. Ketika menerima pesan yang membuat kita kesal, sebaiknya kita ...

6. Salah satu manfaat komunikasi efektif adalah ...

7. Mendengarkan secara aktif berarti ...

8. Saat tidak sengaja menyinggung teman, kita sebaiknya ...

9. Sikap yang tepat saat berkomunikasi di media sosial adalah ...

10. Pesan utama QS. Al-Ahzab ayat 70 dalam materi ini adalah ...

Periksa jawaban

3. Asesmen Keterampilan: Praktik Komunikasi

Guru mengamati peserta didik saat bermain peran atau berdiskusi.

Aspek yang Dinilai

Skor 1–4

Berbicara dengan jelas

...

Menggunakan bahasa yang santun

...

Mendengarkan tanpa memotong pembicaraan

...

Menghargai pendapat orang lain

...

Menanggapi perbedaan dengan baik

...

Pedoman skor:

  • 4 = Sangat baik: dilakukan secara konsisten dan mandiri.

  • 3 = Baik: dilakukan dengan baik, sesekali memerlukan arahan.

  • 2 = Cukup: mulai menunjukkan keterampilan, tetapi masih perlu bimbingan.

  • 1 = Perlu bimbingan: belum menunjukkan keterampilan secara memadai.

Nilai praktik dapat dihitung dengan rumus:

\[ \text{Nilai}=\frac{\text{Skor diperoleh}}{20}\times100 \]

4. Asesmen Sikap dan Refleksi Diri

Berikan tanda centang pada kolom yang sesuai dengan kebiasaanmu.

Pernyataan

Ya

Belum

Saya mendengarkan teman ketika berbicara.

☐

☐

Saya menggunakan kata-kata yang sopan.

☐

☐

Saya menghargai pendapat yang berbeda.

☐

☐

Saya berusaha mengendalikan emosi sebelum berbicara.

☐

☐

Saya berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

☐

☐

Pertanyaan refleksi:

  1. Apa keterampilan komunikasi yang sudah saya kuasai?

  2. Apa kebiasaan komunikasi yang perlu saya perbaiki?

  3. Apa satu tindakan nyata yang akan saya lakukan mulai hari ini?

F. KESIMPULAN MATERI

Komunikasi efektif adalah kemampuan menyampaikan dan menerima pesan secara jelas, sopan, dan tepat sehingga orang yang berkomunikasi dapat saling memahami.

Komunikasi efektif dapat dilakukan dengan berbicara secara jelas, mendengarkan secara aktif, menggunakan bahasa yang santun, menghargai perbedaan pendapat, serta mengendalikan emosi. Keterampilan ini bermanfaat untuk membangun persahabatan, meningkatkan kerja sama, mencegah kesalahpahaman, dan menyelesaikan konflik secara damai.

Sebagai pelajar muslim, kita juga diajarkan untuk berkata benar dan baik, sebagaimana penguatan dalam QS. Al-Ahzab ayat 70 serta hadis tentang berkata baik atau diam.

G. KESIMPULAN PEMBELAJARAN

Setelah mengikuti layanan bimbingan klasikal, peserta didik diharapkan menyadari bahwa komunikasi efektif bukan hanya tentang berbicara, tetapi juga tentang mendengarkan, memahami perasaan orang lain, dan bertanggung jawab atas perkataan sendiri.

Melalui kegiatan Mindful Learning, peserta didik belajar menyadari perilaku komunikasinya. Melalui Meaningful Learning, peserta didik menghubungkan keterampilan komunikasi dengan kehidupan sehari-hari. Melalui Joyful Learning, peserta didik berlatih berkomunikasi dengan cara yang menyenangkan dan bekerja sama dengan teman.

Keberhasilan pembelajaran terlihat ketika peserta didik mampu menjelaskan prinsip komunikasi efektif, mempraktikkan percakapan yang santun, dan menunjukkan kemauan untuk memperbaiki kebiasaan komunikasinya.

H. PESAN PENUTUP

Anak-anakku yang Bapak banggakan,

Jadilah pelajar yang mampu berbicara dengan sopan, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan menghargai setiap orang. Ingatlah bahwa perkataan yang baik dapat menyenangkan hati, mempererat persahabatan, dan menciptakan lingkungan sekolah yang damai.

Mari membiasakan diri untuk berpikir sebelum berbicara, mendengarkan sebelum menjawab, dan menghargai sebelum menilai.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Rabu, 21 Oktober 2026

etika pergaulan

   A. IDENTITAS



Nama Guru

Yulian Wilyanus

Mata Pelajaran

Bimbingan Konseling

Hari/Tanggal

Rau, 21 Oktober 2026

Fase/Kelas

D / 7 B.

Judul Materi

Pergaulan dan Tata Krama

Pertemuan Ke-


B. CAPAIAN LAYANAN

Pada akhir Fase D, peserta didik mampu memahami dan mengembangkan potensi diri secara positif, memiliki kesadaran diri, mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab, serta menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama, moral, dan norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam layanan ini, peserta didik diarahkan untuk memahami etika pergaulan dan tata krama serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

C. TUJUAN LAYANAN

Setelah mengikuti layanan bimbingan klasikal, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian etika pergaulan dan tata krama.

  2. Mengidentifikasi perilaku yang baik dan kurang baik dalam pergaulan sehari-hari.

  3. Menunjukkan sikap sopan santun kepada orang tua, guru, teman, dan masyarakat.

  4. Menerapkan komunikasi yang santun secara langsung maupun melalui media sosial.

  5. Menghargai perbedaan pendapat, menjaga perasaan orang lain, dan menghindari perilaku perundungan.

  6. Membiasakan perilaku terpuji sesuai dengan ajaran Islam dan norma yang berlaku.

D. LAYANAN MENDALAM

1. Mindful (Berkesadaran)

Peserta didik mampu menyadari bahwa setiap perkataan dan tindakan memiliki dampak terhadap perasaan orang lain. Peserta didik memahami pentingnya menjaga sikap, ucapan, ekspresi, dan perilaku ketika berinteraksi dengan orang lain.

2. Meaningful (Bermakna)

Peserta didik mampu menghubungkan pemahaman tentang etika pergaulan dan tata krama dengan pengalaman sehari-hari, seperti menghormati guru, berbicara santun kepada orang tua, menghargai teman, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, serta menggunakan media sosial secara bijaksana.

3. Joyful (Menyenangkan)

Peserta didik terlibat aktif melalui kegiatan yang menyenangkan, interaktif, dan reflektif, seperti:

  • Permainan peran tentang perilaku sopan dan tidak sopan.

  • Diskusi kelompok mengenai etika bergaul dengan teman sebaya.

  • Kuis singkat tentang tata krama di sekolah dan media sosial.

  • Simulasi mengucapkan salam, meminta izin, mengucapkan terima kasih, dan meminta maaf.

  • Refleksi tentang kebiasaan baik yang akan diterapkan setiap hari.

E. ALUR TUJUAN LAYANAN

1. Eksplorasi dan Identifikasi

Peserta didik diajak mengenali:

  • Pengertian etika pergaulan dan tata krama.

  • Contoh perilaku sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.

  • Perbedaan perilaku yang menghargai orang lain dan perilaku yang menyakiti perasaan orang lain.

  • Pentingnya menghormati orang tua, guru, teman, dan masyarakat.

2. Analisis dan Kontekstualisasi

Peserta didik menganalisis situasi yang sering terjadi, seperti memotong pembicaraan, mengejek teman, menggunakan kata-kata kasar, tidak meminta izin, menyebarkan foto teman tanpa persetujuan, atau menulis komentar yang menyakitkan di media sosial.

Peserta didik mendiskusikan akibat dari perilaku tersebut dan menentukan cara menyikapinya secara santun, bijaksana, dan bertanggung jawab.

3. Sintesis dan Rekonstruksi

Peserta didik mengolah kembali pemahaman tentang etika pergaulan dan tata krama menjadi kebiasaan nyata, seperti berbicara sopan, menghormati orang lain, menjaga rahasia, meminta maaf ketika bersalah, serta membiasakan diri berpikir sebelum berbicara atau bertindak.

F. MATERI PEMBELAJARAN

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

الـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا وَحَبِيبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin, wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wa habiibinaa Muhammadin wa 'alaa aalihii wa shahbihii ajma'iin. Amma ba'du.

Anak-anakku yang Bapak banggakan,

Marilah kita bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita. Semoga kita senantiasa mendapatkan petunjuk-Nya agar menjadi pribadi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan mampu menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

Pada kesempatan ini, kita akan mempelajari materi “Etika Pergaulan dan Tata Krama.” Sebagai pelajar, kita tidak hanya dituntut untuk memiliki ilmu pengetahuan, tetapi juga harus memiliki sikap sopan santun, menghormati orang lain, serta mampu menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Ilmu yang tinggi akan semakin bermanfaat apabila disertai akhlak yang baik. Oleh karena itu, mari kita belajar membiasakan perilaku terpuji mulai dari hal-hal sederhana.

1. Pengertian Etika Pergaulan dan Tata Krama

Etika pergaulan adalah pedoman tentang perilaku yang baik dan pantas ketika berinteraksi dengan orang lain berdasarkan nilai moral, agama, dan norma yang berlaku.

Tata krama adalah aturan atau kebiasaan sopan santun yang diterapkan dalam berbicara, bersikap, dan bertindak ketika berhubungan dengan orang lain.

Dengan demikian, etika pergaulan dan tata krama merupakan pedoman bagi seseorang untuk membangun hubungan yang baik, saling menghormati, menjaga perasaan orang lain, dan menciptakan suasana yang nyaman dalam kehidupan bersama.

Contohnya adalah mengucapkan salam ketika bertemu, berbicara dengan bahasa yang sopan, meminta izin sebelum menggunakan barang orang lain, mendengarkan ketika orang lain berbicara, dan mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan.

2. Pentingnya Etika Pergaulan dan Tata Krama

Etika pergaulan dan tata krama sangat penting karena dapat membantu kita:

  1. Menumbuhkan rasa hormat. Kita belajar menghargai orang tua, guru, teman, dan orang lain tanpa membeda-bedakan.

  2. Membangun persahabatan yang sehat. Sikap sopan dan saling menghargai membantu menciptakan hubungan yang nyaman.

  3. Mencegah konflik. Berbicara dengan baik dan mendengarkan orang lain dapat mengurangi kesalahpahaman.

  4. Membentuk karakter positif. Tata krama melatih kita menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan rendah hati.

  5. Menjaga nama baik diri dan keluarga. Perilaku yang baik mencerminkan karakter seseorang.

  6. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Setiap orang merasa dihargai dan tidak takut menjadi sasaran ejekan atau penghinaan.

Ingatlah, sopan santun bukan hanya ditunjukkan ketika bertemu guru atau orang yang lebih tua, tetapi juga ketika bergaul dengan teman sebaya, adik kelas, petugas sekolah, dan orang lain.

3. Bentuk-Bentuk Etika Pergaulan dan Tata Krama

a. Tata krama kepada orang tua

  • Berbicara dengan lembut dan sopan.

  • Mendengarkan nasihat yang baik.

  • Membantu pekerjaan rumah sesuai kemampuan.

  • Meminta izin ketika hendak bepergian.

  • Mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan mereka.

b. Tata krama kepada guru

  • Mengucapkan salam ketika bertemu.

  • Mendengarkan penjelasan dengan baik.

  • Meminta izin sebelum meninggalkan kelas.

  • Mengajukan pertanyaan dengan bahasa yang santun.

  • Menghargai teguran dan arahan yang membangun.

c. Tata krama kepada teman

  • Menghargai perbedaan pendapat dan kemampuan.

  • Tidak mengejek nama, penampilan, keluarga, atau kekurangan teman.

  • Tidak memaksakan kehendak.

  • Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

  • Membantu teman yang mengalami kesulitan.

  • Tidak ikut menyebarkan gosip atau mempermalukan orang lain.

d. Tata krama di lingkungan masyarakat

  • Menghormati tetangga dan orang yang lebih tua.

  • Menjaga kebersihan dan ketertiban.

  • Mengantre dengan tertib.

  • Meminta izin sebelum meminjam barang.

  • Menghargai aturan yang berlaku di lingkungan sekitar.

e. Tata krama dalam menggunakan media sosial

  • Menggunakan bahasa yang sopan dalam komentar dan pesan.

  • Tidak menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.

  • Tidak mengunggah foto atau video orang lain tanpa izin.

  • Tidak menghina, mengancam, atau mempermalukan orang lain di dunia maya.

  • Menjaga informasi pribadi dan menghormati privasi orang lain.

  • Berpikir terlebih dahulu sebelum mengirim pesan atau mengunggah sesuatu.

Perlu diingat bahwa etika di dunia digital sama pentingnya dengan etika ketika berhadapan langsung. Tulisan yang kita kirimkan dapat memengaruhi perasaan dan kehidupan orang lain.

4. Allah SWT Mengajarkan Kita untuk Menjaga Etika dan Akhlak

Islam mengajarkan umatnya untuk berkata baik, menghormati sesama, dan menjauhi perilaku yang merendahkan orang lain.

a. Larangan mengejek dan merendahkan orang lain

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 11, petikan ayat)

Ayat ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh menghina, mengejek, atau merendahkan orang lain. Setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Dalam kehidupan sekolah, kita tidak boleh menjadikan kekurangan teman sebagai bahan candaan yang menyakitkan. Candaan yang membuat orang lain merasa direndahkan perlu dihentikan.

b. Berbicara dengan perkataan yang baik

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 83:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Artinya:

“Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83, petikan ayat)

Ayat tersebut mengingatkan kita untuk menjaga ucapan kepada siapa pun. Berbicara dengan baik bukan berarti harus selalu setuju dengan orang lain, melainkan menyampaikan pendapat dengan santun tanpa menghina atau menyakiti.

Ketika berbeda pendapat dengan teman, kita dapat mengatakan, “Menurut saya, ada pendapat lain yang bisa kita pertimbangkan,” daripada membentak atau mengejeknya.

c. Hadis Nabi Muhammad SAW tentang berkata baik

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang muslim harus berhati-hati dalam berbicara. Sebelum mengucapkan sesuatu, kita perlu memikirkan apakah perkataan tersebut bermanfaat, benar, dan tidak menyakiti orang lain.

Jika belum dapat berkata baik, lebih baik menahan diri daripada mengucapkan kata-kata kasar atau menyebarkan fitnah.

d. Hadis tentang akhlak yang baik

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim, makna hadis)

Hadis ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya dilihat dari kepandaian atau prestasinya, tetapi juga dari akhlaknya.

Pelajar yang baik adalah pelajar yang rajin belajar, menghormati guru, menyayangi teman, menjaga ucapan, dan bertanggung jawab atas tindakannya.

5. Perilaku yang Harus Dihindari dalam Pergaulan

Ada beberapa perilaku yang perlu dihindari agar hubungan dengan orang lain tetap baik.

Perilaku yang harus dihindari

Sikap yang sebaiknya dilakukan

Berbicara kasar

Menggunakan bahasa yang sopan

Mengejek teman

Menghargai perbedaan

Memotong pembicaraan

Mendengarkan sampai selesai

Memaksakan pendapat

Berdiskusi dan menghargai pendapat lain

Menyebarkan gosip

Menjaga rahasia dan memeriksa kebenaran informasi

Mengambil barang tanpa izin

Meminta izin terlebih dahulu

Menghina di media sosial

Menulis komentar yang santun atau tidak berkomentar

Tidak mengakui kesalahan

Meminta maaf dan memperbaiki perilaku

Apabila melihat teman diperlakukan secara tidak baik, jangan ikut mengejek atau menyebarkan kejadian tersebut. Berikan dukungan kepada teman yang menjadi sasaran, dan mintalah bantuan guru atau orang dewasa tepercaya apabila perilaku tersebut berulang atau membahayakan.

6. Cara Menerapkan Etika Pergaulan dalam Kehidupan Sehari-hari

Untuk membangun pergaulan yang sehat, kita dapat menerapkan kebiasaan berikut:

  1. Membiasakan mengucapkan salam ketika bertemu.

  2. Menggunakan kata “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih” pada waktu yang tepat.

  3. Mendengarkan orang lain tanpa memotong pembicaraan.

  4. Menghargai perbedaan agama, pendapat, kebiasaan, dan kemampuan.

  5. Menjaga rahasia serta tidak menyebarkan informasi pribadi orang lain.

  6. Mengakui kesalahan dan bersedia memperbaikinya.

  7. Memilih teman yang mendorong kita melakukan hal-hal positif.

  8. Menjaga sopan santun, baik di dunia nyata maupun di media sosial.

  9. Berpikir sebelum berbicara atau bertindak.

  10. Membiasakan diri berdoa dan memohon bimbingan Allah SWT agar memiliki akhlak yang mulia.

Perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Membiasakan satu perilaku baik setiap hari dapat membantu membentuk karakter yang lebih santun dan bertanggung jawab.

7. Aktivitas Reflektif: “Sudahkah Aku Bersikap Santun?”

Anak-anakku, cobalah perhatikan beberapa situasi berikut.

  • Ketika guru sedang menjelaskan, apakah kamu mendengarkan atau justru berbicara sendiri?

  • Ketika teman melakukan kesalahan, apakah kamu membantu atau malah mengejeknya?

  • Ketika pendapatmu berbeda dengan teman, apakah kamu tetap berbicara dengan sopan?

  • Ketika menerima pesan yang menghina seseorang, apakah kamu ikut menyebarkannya atau memilih tidak terlibat?

  • Ketika melakukan kesalahan, apakah kamu berani meminta maaf?

Pilihlah satu kebiasaan yang masih perlu diperbaiki. Tuliskan tindakan nyata yang akan kamu lakukan mulai hari ini.

Contoh komitmen: “Saya akan membiasakan diri berbicara sopan, tidak mengejek teman, mendengarkan orang lain, dan meminta maaf apabila melakukan kesalahan.”

G. KEGIATAN LAYANAN

1. Kegiatan Pembuka

Guru BK membuka kegiatan dengan salam dan doa, menyampaikan tujuan layanan, serta mengajak peserta didik berbagi contoh perilaku sopan santun yang pernah mereka lakukan atau lihat.

2. Kegiatan Inti

  • Guru BK menjelaskan pengertian dan pentingnya etika pergaulan.

  • Peserta didik mengamati contoh situasi pergaulan di sekolah dan media sosial.

  • Peserta didik berdiskusi dalam kelompok untuk menentukan perilaku yang tepat.

  • Setiap kelompok mempraktikkan dialog singkat tentang cara menyampaikan pendapat, meminta maaf, atau menyelesaikan kesalahpahaman dengan santun.

  • Guru BK memberikan penguatan berdasarkan nilai-nilai Islam dan norma yang berlaku.

3. Kegiatan Penutup

Peserta didik menyimpulkan materi, menyampaikan satu hal yang dipelajari, dan menuliskan satu kebiasaan baik yang akan diterapkan selama satu minggu ke depan. Guru BK memberikan motivasi dan menutup kegiatan dengan doa serta salam.

H. REFLEKSI

Jawablah pertanyaan berikut secara jujur.

  1. Apa yang saya pahami tentang etika pergaulan dan tata krama?

  2. Mengapa saya harus menghormati orang lain meskipun memiliki pendapat yang berbeda?

  3. Perilaku apa yang perlu saya perbaiki ketika bergaul dengan teman?

  4. Bagaimana cara saya menggunakan media sosial secara santun dan bertanggung jawab?

  5. Kebiasaan baik apa yang akan saya lakukan mulai hari ini?

I. PESAN PENUTUP

Anak-anakku yang Bapak banggakan,

Jadilah pelajar yang memiliki etika pergaulan dan tata krama yang baik. Hormatilah orang tua, sayangilah teman, hargailah guru, dan bersikaplah santun kepada siapa pun.

Ingatlah bahwa perkataan yang baik dapat menyenangkan hati orang lain, sedangkan perkataan yang buruk dapat menimbulkan luka dan perselisihan. Oleh karena itu, jagalah lisan, perilaku, dan tulisan kita, termasuk ketika menggunakan media sosial.

Jangan merasa hebat dengan merendahkan orang lain. Justru orang yang berakhlak mulia adalah orang yang mampu menghargai sesama, mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memperbaiki diri.

Mari kita jadikan sopan santun sebagai kebiasaan, bukan hanya dilakukan ketika diawasi guru atau orang tua. Semoga kita menjadi generasi yang cerdas, beriman, berakhlak mulia, dan mampu menciptakan pergaulan yang aman, nyaman, serta penuh rasa hormat.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Selasa, 20 Oktober 2026

Etika pergaulan dan Tata krama

  A. IDENTITAS



Nama Guru

Yulian Wilyanus

Mata Pelajaran

Bimbingan Konseling

Hari/Tanggal

Senin, 19 Oktober 2026

Fase/Kelas

D / 7 A, E.

Judul Materi

Pergaulan dan Tata Krama

Pertemuan Ke-


B. CAPAIAN LAYANAN

Pada akhir Fase D, peserta didik mampu memahami dan mengembangkan potensi diri secara positif, memiliki kesadaran diri, mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab, serta menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama, moral, dan norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam layanan ini, peserta didik diarahkan untuk memahami etika pergaulan dan tata krama serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

C. TUJUAN LAYANAN

Setelah mengikuti layanan bimbingan klasikal, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian etika pergaulan dan tata krama.

  2. Mengidentifikasi perilaku yang baik dan kurang baik dalam pergaulan sehari-hari.

  3. Menunjukkan sikap sopan santun kepada orang tua, guru, teman, dan masyarakat.

  4. Menerapkan komunikasi yang santun secara langsung maupun melalui media sosial.

  5. Menghargai perbedaan pendapat, menjaga perasaan orang lain, dan menghindari perilaku perundungan.

  6. Membiasakan perilaku terpuji sesuai dengan ajaran Islam dan norma yang berlaku.

D. LAYANAN MENDALAM

1. Mindful (Berkesadaran)

Peserta didik mampu menyadari bahwa setiap perkataan dan tindakan memiliki dampak terhadap perasaan orang lain. Peserta didik memahami pentingnya menjaga sikap, ucapan, ekspresi, dan perilaku ketika berinteraksi dengan orang lain.

2. Meaningful (Bermakna)

Peserta didik mampu menghubungkan pemahaman tentang etika pergaulan dan tata krama dengan pengalaman sehari-hari, seperti menghormati guru, berbicara santun kepada orang tua, menghargai teman, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, serta menggunakan media sosial secara bijaksana.

3. Joyful (Menyenangkan)

Peserta didik terlibat aktif melalui kegiatan yang menyenangkan, interaktif, dan reflektif, seperti:

  • Permainan peran tentang perilaku sopan dan tidak sopan.

  • Diskusi kelompok mengenai etika bergaul dengan teman sebaya.

  • Kuis singkat tentang tata krama di sekolah dan media sosial.

  • Simulasi mengucapkan salam, meminta izin, mengucapkan terima kasih, dan meminta maaf.

  • Refleksi tentang kebiasaan baik yang akan diterapkan setiap hari.

E. ALUR TUJUAN LAYANAN

1. Eksplorasi dan Identifikasi

Peserta didik diajak mengenali:

  • Pengertian etika pergaulan dan tata krama.

  • Contoh perilaku sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.

  • Perbedaan perilaku yang menghargai orang lain dan perilaku yang menyakiti perasaan orang lain.

  • Pentingnya menghormati orang tua, guru, teman, dan masyarakat.

2. Analisis dan Kontekstualisasi

Peserta didik menganalisis situasi yang sering terjadi, seperti memotong pembicaraan, mengejek teman, menggunakan kata-kata kasar, tidak meminta izin, menyebarkan foto teman tanpa persetujuan, atau menulis komentar yang menyakitkan di media sosial.

Peserta didik mendiskusikan akibat dari perilaku tersebut dan menentukan cara menyikapinya secara santun, bijaksana, dan bertanggung jawab.

3. Sintesis dan Rekonstruksi

Peserta didik mengolah kembali pemahaman tentang etika pergaulan dan tata krama menjadi kebiasaan nyata, seperti berbicara sopan, menghormati orang lain, menjaga rahasia, meminta maaf ketika bersalah, serta membiasakan diri berpikir sebelum berbicara atau bertindak.

F. MATERI PEMBELAJARAN

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

الـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا وَحَبِيبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin, wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wa habiibinaa Muhammadin wa 'alaa aalihii wa shahbihii ajma'iin. Amma ba'du.

Anak-anakku yang Bapak banggakan,

Marilah kita bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita. Semoga kita senantiasa mendapatkan petunjuk-Nya agar menjadi pribadi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan mampu menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

Pada kesempatan ini, kita akan mempelajari materi “Etika Pergaulan dan Tata Krama.” Sebagai pelajar, kita tidak hanya dituntut untuk memiliki ilmu pengetahuan, tetapi juga harus memiliki sikap sopan santun, menghormati orang lain, serta mampu menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Ilmu yang tinggi akan semakin bermanfaat apabila disertai akhlak yang baik. Oleh karena itu, mari kita belajar membiasakan perilaku terpuji mulai dari hal-hal sederhana.

1. Pengertian Etika Pergaulan dan Tata Krama

Etika pergaulan adalah pedoman tentang perilaku yang baik dan pantas ketika berinteraksi dengan orang lain berdasarkan nilai moral, agama, dan norma yang berlaku.

Tata krama adalah aturan atau kebiasaan sopan santun yang diterapkan dalam berbicara, bersikap, dan bertindak ketika berhubungan dengan orang lain.

Dengan demikian, etika pergaulan dan tata krama merupakan pedoman bagi seseorang untuk membangun hubungan yang baik, saling menghormati, menjaga perasaan orang lain, dan menciptakan suasana yang nyaman dalam kehidupan bersama.

Contohnya adalah mengucapkan salam ketika bertemu, berbicara dengan bahasa yang sopan, meminta izin sebelum menggunakan barang orang lain, mendengarkan ketika orang lain berbicara, dan mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan.

2. Pentingnya Etika Pergaulan dan Tata Krama

Etika pergaulan dan tata krama sangat penting karena dapat membantu kita:

  1. Menumbuhkan rasa hormat. Kita belajar menghargai orang tua, guru, teman, dan orang lain tanpa membeda-bedakan.

  2. Membangun persahabatan yang sehat. Sikap sopan dan saling menghargai membantu menciptakan hubungan yang nyaman.

  3. Mencegah konflik. Berbicara dengan baik dan mendengarkan orang lain dapat mengurangi kesalahpahaman.

  4. Membentuk karakter positif. Tata krama melatih kita menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan rendah hati.

  5. Menjaga nama baik diri dan keluarga. Perilaku yang baik mencerminkan karakter seseorang.

  6. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Setiap orang merasa dihargai dan tidak takut menjadi sasaran ejekan atau penghinaan.

Ingatlah, sopan santun bukan hanya ditunjukkan ketika bertemu guru atau orang yang lebih tua, tetapi juga ketika bergaul dengan teman sebaya, adik kelas, petugas sekolah, dan orang lain.

3. Bentuk-Bentuk Etika Pergaulan dan Tata Krama

a. Tata krama kepada orang tua

  • Berbicara dengan lembut dan sopan.

  • Mendengarkan nasihat yang baik.

  • Membantu pekerjaan rumah sesuai kemampuan.

  • Meminta izin ketika hendak bepergian.

  • Mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan mereka.

b. Tata krama kepada guru

  • Mengucapkan salam ketika bertemu.

  • Mendengarkan penjelasan dengan baik.

  • Meminta izin sebelum meninggalkan kelas.

  • Mengajukan pertanyaan dengan bahasa yang santun.

  • Menghargai teguran dan arahan yang membangun.

c. Tata krama kepada teman

  • Menghargai perbedaan pendapat dan kemampuan.

  • Tidak mengejek nama, penampilan, keluarga, atau kekurangan teman.

  • Tidak memaksakan kehendak.

  • Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

  • Membantu teman yang mengalami kesulitan.

  • Tidak ikut menyebarkan gosip atau mempermalukan orang lain.

d. Tata krama di lingkungan masyarakat

  • Menghormati tetangga dan orang yang lebih tua.

  • Menjaga kebersihan dan ketertiban.

  • Mengantre dengan tertib.

  • Meminta izin sebelum meminjam barang.

  • Menghargai aturan yang berlaku di lingkungan sekitar.

e. Tata krama dalam menggunakan media sosial

  • Menggunakan bahasa yang sopan dalam komentar dan pesan.

  • Tidak menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.

  • Tidak mengunggah foto atau video orang lain tanpa izin.

  • Tidak menghina, mengancam, atau mempermalukan orang lain di dunia maya.

  • Menjaga informasi pribadi dan menghormati privasi orang lain.

  • Berpikir terlebih dahulu sebelum mengirim pesan atau mengunggah sesuatu.

Perlu diingat bahwa etika di dunia digital sama pentingnya dengan etika ketika berhadapan langsung. Tulisan yang kita kirimkan dapat memengaruhi perasaan dan kehidupan orang lain.

4. Allah SWT Mengajarkan Kita untuk Menjaga Etika dan Akhlak

Islam mengajarkan umatnya untuk berkata baik, menghormati sesama, dan menjauhi perilaku yang merendahkan orang lain.

a. Larangan mengejek dan merendahkan orang lain

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 11, petikan ayat)

Ayat ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh menghina, mengejek, atau merendahkan orang lain. Setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Dalam kehidupan sekolah, kita tidak boleh menjadikan kekurangan teman sebagai bahan candaan yang menyakitkan. Candaan yang membuat orang lain merasa direndahkan perlu dihentikan.

b. Berbicara dengan perkataan yang baik

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 83:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Artinya:

“Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83, petikan ayat)

Ayat tersebut mengingatkan kita untuk menjaga ucapan kepada siapa pun. Berbicara dengan baik bukan berarti harus selalu setuju dengan orang lain, melainkan menyampaikan pendapat dengan santun tanpa menghina atau menyakiti.

Ketika berbeda pendapat dengan teman, kita dapat mengatakan, “Menurut saya, ada pendapat lain yang bisa kita pertimbangkan,” daripada membentak atau mengejeknya.

c. Hadis Nabi Muhammad SAW tentang berkata baik

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang muslim harus berhati-hati dalam berbicara. Sebelum mengucapkan sesuatu, kita perlu memikirkan apakah perkataan tersebut bermanfaat, benar, dan tidak menyakiti orang lain.

Jika belum dapat berkata baik, lebih baik menahan diri daripada mengucapkan kata-kata kasar atau menyebarkan fitnah.

d. Hadis tentang akhlak yang baik

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim, makna hadis)

Hadis ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya dilihat dari kepandaian atau prestasinya, tetapi juga dari akhlaknya.

Pelajar yang baik adalah pelajar yang rajin belajar, menghormati guru, menyayangi teman, menjaga ucapan, dan bertanggung jawab atas tindakannya.

5. Perilaku yang Harus Dihindari dalam Pergaulan

Ada beberapa perilaku yang perlu dihindari agar hubungan dengan orang lain tetap baik.

Perilaku yang harus dihindari

Sikap yang sebaiknya dilakukan

Berbicara kasar

Menggunakan bahasa yang sopan

Mengejek teman

Menghargai perbedaan

Memotong pembicaraan

Mendengarkan sampai selesai

Memaksakan pendapat

Berdiskusi dan menghargai pendapat lain

Menyebarkan gosip

Menjaga rahasia dan memeriksa kebenaran informasi

Mengambil barang tanpa izin

Meminta izin terlebih dahulu

Menghina di media sosial

Menulis komentar yang santun atau tidak berkomentar

Tidak mengakui kesalahan

Meminta maaf dan memperbaiki perilaku

Apabila melihat teman diperlakukan secara tidak baik, jangan ikut mengejek atau menyebarkan kejadian tersebut. Berikan dukungan kepada teman yang menjadi sasaran, dan mintalah bantuan guru atau orang dewasa tepercaya apabila perilaku tersebut berulang atau membahayakan.

6. Cara Menerapkan Etika Pergaulan dalam Kehidupan Sehari-hari

Untuk membangun pergaulan yang sehat, kita dapat menerapkan kebiasaan berikut:

  1. Membiasakan mengucapkan salam ketika bertemu.

  2. Menggunakan kata “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih” pada waktu yang tepat.

  3. Mendengarkan orang lain tanpa memotong pembicaraan.

  4. Menghargai perbedaan agama, pendapat, kebiasaan, dan kemampuan.

  5. Menjaga rahasia serta tidak menyebarkan informasi pribadi orang lain.

  6. Mengakui kesalahan dan bersedia memperbaikinya.

  7. Memilih teman yang mendorong kita melakukan hal-hal positif.

  8. Menjaga sopan santun, baik di dunia nyata maupun di media sosial.

  9. Berpikir sebelum berbicara atau bertindak.

  10. Membiasakan diri berdoa dan memohon bimbingan Allah SWT agar memiliki akhlak yang mulia.

Perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Membiasakan satu perilaku baik setiap hari dapat membantu membentuk karakter yang lebih santun dan bertanggung jawab.

7. Aktivitas Reflektif: “Sudahkah Aku Bersikap Santun?”

Anak-anakku, cobalah perhatikan beberapa situasi berikut.

  • Ketika guru sedang menjelaskan, apakah kamu mendengarkan atau justru berbicara sendiri?

  • Ketika teman melakukan kesalahan, apakah kamu membantu atau malah mengejeknya?

  • Ketika pendapatmu berbeda dengan teman, apakah kamu tetap berbicara dengan sopan?

  • Ketika menerima pesan yang menghina seseorang, apakah kamu ikut menyebarkannya atau memilih tidak terlibat?

  • Ketika melakukan kesalahan, apakah kamu berani meminta maaf?

Pilihlah satu kebiasaan yang masih perlu diperbaiki. Tuliskan tindakan nyata yang akan kamu lakukan mulai hari ini.

Contoh komitmen: “Saya akan membiasakan diri berbicara sopan, tidak mengejek teman, mendengarkan orang lain, dan meminta maaf apabila melakukan kesalahan.”

G. KEGIATAN LAYANAN

1. Kegiatan Pembuka

Guru BK membuka kegiatan dengan salam dan doa, menyampaikan tujuan layanan, serta mengajak peserta didik berbagi contoh perilaku sopan santun yang pernah mereka lakukan atau lihat.

2. Kegiatan Inti

  • Guru BK menjelaskan pengertian dan pentingnya etika pergaulan.

  • Peserta didik mengamati contoh situasi pergaulan di sekolah dan media sosial.

  • Peserta didik berdiskusi dalam kelompok untuk menentukan perilaku yang tepat.

  • Setiap kelompok mempraktikkan dialog singkat tentang cara menyampaikan pendapat, meminta maaf, atau menyelesaikan kesalahpahaman dengan santun.

  • Guru BK memberikan penguatan berdasarkan nilai-nilai Islam dan norma yang berlaku.

3. Kegiatan Penutup

Peserta didik menyimpulkan materi, menyampaikan satu hal yang dipelajari, dan menuliskan satu kebiasaan baik yang akan diterapkan selama satu minggu ke depan. Guru BK memberikan motivasi dan menutup kegiatan dengan doa serta salam.

H. REFLEKSI

Jawablah pertanyaan berikut secara jujur.

  1. Apa yang saya pahami tentang etika pergaulan dan tata krama?

  2. Mengapa saya harus menghormati orang lain meskipun memiliki pendapat yang berbeda?

  3. Perilaku apa yang perlu saya perbaiki ketika bergaul dengan teman?

  4. Bagaimana cara saya menggunakan media sosial secara santun dan bertanggung jawab?

  5. Kebiasaan baik apa yang akan saya lakukan mulai hari ini?

I. PESAN PENUTUP

Anak-anakku yang Bapak banggakan,

Jadilah pelajar yang memiliki etika pergaulan dan tata krama yang baik. Hormatilah orang tua, sayangilah teman, hargailah guru, dan bersikaplah santun kepada siapa pun.

Ingatlah bahwa perkataan yang baik dapat menyenangkan hati orang lain, sedangkan perkataan yang buruk dapat menimbulkan luka dan perselisihan. Oleh karena itu, jagalah lisan, perilaku, dan tulisan kita, termasuk ketika menggunakan media sosial.

Jangan merasa hebat dengan merendahkan orang lain. Justru orang yang berakhlak mulia adalah orang yang mampu menghargai sesama, mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memperbaiki diri.

Mari kita jadikan sopan santun sebagai kebiasaan, bukan hanya dilakukan ketika diawasi guru atau orang tua. Semoga kita menjadi generasi yang cerdas, beriman, berakhlak mulia, dan mampu menciptakan pergaulan yang aman, nyaman, serta penuh rasa hormat.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Senin, 19 Oktober 2026

Mengelola emosi

 A. IDENTITAS



Nama Guru

Yulian Wilyanus

Mata Pelajaran

Bimbingan Konseling

Hari/Tanggal

Selasa, 20 Oktoer 2026

Fase/Kelas

D / 8 A dan B

Judul Materi

Mengelola Emosi

Pertemuan Ke-

Disesuaikan dengan program layanan

B. CAPAIAN LAYANAN

Pada akhir Fase D, peserta didik mampu memahami dan mengembangkan potensi diri secara positif, memiliki kesadaran diri, mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab, serta menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama, moral, dan norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam layanan ini, peserta didik diarahkan untuk dapat mengenali, memahami, dan mengelola emosi secara positif sehingga mampu mengendalikan diri, mengambil keputusan dengan bijaksana, serta membangun hubungan yang harmonis dengan orang lain.

C. TUJUAN LAYANAN

Setelah mengikuti layanan bimbingan klasikal, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian dan jenis-jenis emosi dalam kehidupan sehari-hari.

  2. Mengenali penyebab munculnya emosi, seperti marah, sedih, takut, kecewa, dan bahagia.

  3. Mengidentifikasi dampak positif dan negatif dari cara mengekspresikan emosi.

  4. Mempraktikkan cara mengelola emosi secara sehat dan bertanggung jawab.

  5. Menunjukkan perilaku sabar, empati, dan mampu mengendalikan diri sesuai nilai-nilai Islam.

D. LAYANAN MENDALAM

1. Mindful (Berkesadaran)

Peserta didik mampu menyadari emosi yang sedang dirasakan, mengenali penyebab munculnya emosi, memahami reaksi tubuh dan pikiran, serta menyadari bahwa setiap emosi perlu dikelola dengan tepat.

2. Meaningful (Bermakna)

Peserta didik mampu menghubungkan keterampilan mengelola emosi dengan pengalaman sehari-hari, seperti menghadapi konflik dengan teman, memperoleh kritik, mengalami kegagalan, menghadapi tekanan belajar, dan menggunakan media sosial secara bijaksana.

3. Joyful (Menyenangkan)

Peserta didik terlibat aktif melalui kegiatan yang menyenangkan, interaktif, dan reflektif, seperti:

  • Permainan mengenali ekspresi emosi.

  • Diskusi kelompok tentang situasi pemicu emosi.

  • Simulasi cara menghadapi kemarahan dan kekecewaan.

  • Latihan teknik berhenti sejenak, menarik napas, dan berpikir sebelum bertindak.

  • Menulis komitmen pribadi untuk mengelola emosi dengan lebih baik.

E. ALUR TUJUAN LAYANAN

1. Eksplorasi dan Identifikasi

Peserta didik diajak mengenali:

  • Pengertian dan berbagai jenis emosi.

  • Situasi yang sering memicu emosi dalam kehidupan sehari-hari.

  • Reaksi fisik, pikiran, dan perilaku ketika mengalami emosi.

  • Kebiasaan yang selama ini dilakukan saat marah, sedih, kecewa, atau takut.

2. Analisis dan Kontekstualisasi

Peserta didik menganalisis dampak cara mengungkapkan emosi terhadap diri sendiri dan orang lain, membandingkan respons yang impulsif dengan respons yang terkendali, serta mendiskusikan cara menyelesaikan masalah tanpa menyakiti orang lain.

3. Sintesis dan Rekonstruksi

Peserta didik mengolah kembali pemahaman tentang pengelolaan emosi dengan menyusun strategi pribadi, mempraktikkan teknik pengendalian diri, dan membuat komitmen untuk menerapkan perilaku yang sabar, tenang, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

F. MATERI PEMBELAJARAN

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

الـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ.

Alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin, wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wa habiibinaa Muhammadin, wa 'alaa aalihii wa shahbihii ajma'iin, wa man tabi'ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin. Amma ba'du.

Anak-anakku yang Bapak banggakan,

Marilah kita bersyukur kepada Allah Swt. atas segala nikmat yang diberikan kepada kita, terutama nikmat iman, kesehatan, dan kesempatan untuk belajar. Semoga kita senantiasa menjadi pribadi yang berakhlak mulia, mampu mengendalikan diri, serta menghormati sesama.

Pada kesempatan ini, kita akan membahas materi mengelola emosi. Setiap manusia memiliki emosi. Kita dapat merasa senang ketika memperoleh kabar baik, sedih ketika kehilangan sesuatu, takut ketika menghadapi tantangan, atau marah ketika diperlakukan tidak adil.

Emosi merupakan bagian alami dari kehidupan manusia. Yang terpenting bukanlah menghilangkan emosi, melainkan belajar memahami dan mengekspresikannya dengan cara yang tepat.

1. Pengertian Mengelola Emosi

Mengelola emosi adalah kemampuan mengenali, memahami, mengendalikan, dan mengekspresikan perasaan secara tepat sesuai dengan situasi, nilai moral, dan norma yang berlaku.

Mengelola emosi bukan berarti kita tidak boleh marah, sedih, kecewa, atau takut. Semua perasaan tersebut wajar dirasakan. Namun, kita perlu belajar agar perasaan tidak menguasai pikiran sehingga mendorong kita melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Contohnya, ketika seorang teman mengejek kita, kita mungkin merasa marah. Akan tetapi, kita dapat memilih untuk menenangkan diri, menyampaikan keberatan dengan sopan, atau meminta bantuan guru jika ejekan terus berlanjut.

Ingatlah: kita tidak selalu dapat mengendalikan kejadian yang dialami, tetapi kita dapat belajar memilih cara meresponsnya.

2. Mengenal Jenis-Jenis Emosi

Beberapa emosi yang umum dialami dalam kehidupan sehari-hari antara lain:

  • Bahagia: muncul ketika mengalami sesuatu yang menyenangkan atau mencapai keberhasilan.

  • Sedih: muncul ketika mengalami kehilangan, kegagalan, atau kekecewaan.

  • Marah: muncul ketika merasa terganggu, kecewa, atau diperlakukan tidak adil.

  • Takut: muncul ketika menghadapi ancaman atau situasi yang belum diketahui.

  • Cemas: muncul ketika memikirkan kemungkinan buruk atau menghadapi sesuatu yang belum pasti.

  • Kecewa: muncul ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan.

Setiap emosi memberikan informasi tentang apa yang sedang kita alami. Karena itu, penting bagi kita untuk mengenali perasaan tersebut tanpa langsung menghakimi diri sendiri.

Misalnya, ketika merasa cemas menghadapi ujian, kita dapat menggunakan perasaan itu sebagai pengingat untuk mempersiapkan diri, berlatih soal, berdoa, dan meminta bantuan jika diperlukan.

3. Penyebab dan Dampak Emosi

Emosi dapat muncul karena berbagai faktor, seperti:

  1. Faktor pribadi, misalnya kelelahan, kurang tidur, atau kekhawatiran.

  2. Faktor keluarga, misalnya perbedaan pendapat atau kesalahpahaman.

  3. Faktor pertemanan, misalnya diejek, tidak diajak bermain, atau berselisih pendapat.

  4. Faktor akademik, misalnya nilai yang kurang memuaskan atau tugas yang menumpuk.

  5. Faktor lingkungan digital, misalnya komentar negatif atau perundungan di media sosial.

Emosi yang dikelola dengan baik membantu kita berpikir jernih, menyelesaikan masalah, dan menjaga hubungan dengan orang lain. Sebaliknya, reaksi yang terburu-buru dapat menimbulkan pertengkaran, menyakiti perasaan teman, merusak hubungan, atau menyebabkan penyesalan.

Oleh karena itu, kita perlu belajar berhenti sejenak sebelum bertindak.

4. Cara Mengelola Emosi dengan Baik

Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan oleh peserta didik.

a. Kenali emosi yang sedang dirasakan

Tanyakan kepada diri sendiri: “Apa yang sedang saya rasakan?” dan “Apa yang menyebabkan saya merasa seperti ini?”

b. Berhenti sejenak sebelum bereaksi

Jangan langsung membalas perkataan yang menyakitkan atau mengirim pesan ketika sedang marah. Beri diri sendiri waktu untuk menenangkan pikiran.

c. Atur pernapasan

Tarik napas secara perlahan dan nyaman, kemudian embuskan dengan tenang. Ulangi beberapa kali sambil memberi waktu kepada diri sendiri untuk berpikir.

d. Ubah cara berpikir

Hindari langsung menyimpulkan bahwa orang lain sengaja menyakiti kita. Pertimbangkan kemungkinan lain dan cari informasi sebelum mengambil keputusan.

e. Ungkapkan perasaan dengan sopan

Gunakan kalimat yang menjelaskan perasaan tanpa menyerang orang lain. Contohnya, “Saya merasa kecewa ketika pendapat saya dipotong. Saya ingin menyelesaikan penjelasan saya terlebih dahulu.”

f. Lakukan kegiatan positif

Beristirahat, berjalan santai, menulis perasaan, berolahraga secara wajar, berdoa, atau berbicara dengan orang yang dipercaya dapat membantu kita menghadapi emosi.

g. Cari bantuan jika diperlukan

Jika emosi terasa sangat berat, berlangsung lama, atau mengganggu kegiatan sehari-hari, bicaralah dengan orang tua, guru BK, atau orang dewasa tepercaya.

5. Mengelola Emosi dalam Perspektif Islam

Islam mengajarkan umatnya untuk bersabar, menahan amarah, memaafkan, dan memperlakukan orang lain dengan baik. Kemampuan mengendalikan diri merupakan bagian penting dari akhlak mulia.

Rasulullah saw. bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Artinya: “Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan sekadar kemampuan mengalahkan orang lain, melainkan kemampuan mengendalikan diri ketika menghadapi keadaan yang memancing kemarahan.

Ketika marah, kita dapat berusaha untuk diam sejenak, tidak berkata kasar, mengubah posisi jika diperlukan, berwudu, dan mengingat Allah Swt. Kita juga perlu belajar menyelesaikan persoalan melalui komunikasi yang baik.

6. Allah Swt. Mengajarkan Kita untuk Selalu Berusaha Menjadi Lebih Baik

Allah Swt. berfirman dalam Surah Ali 'Imran ayat 134:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

(QS. Ali 'Imran: 134)

Ayat ini mengajarkan kita untuk berusaha menahan amarah dan memaafkan orang lain. Menahan amarah bukan berarti membiarkan perlakuan buruk terus terjadi. Kita tetap boleh menegur dengan tegas, menjaga batasan diri, dan meminta pertolongan apabila mengalami perlakuan yang tidak pantas.

Anak-anakku, kita tidak harus selalu berhasil mengendalikan emosi dengan sempurna. Jika suatu saat melakukan kesalahan, akuilah, mintalah maaf jika diperlukan, perbaiki tindakan, dan belajar agar dapat merespons situasi dengan lebih baik pada kesempatan berikutnya.

7. Latihan Praktis: Berhenti, Tenangkan Diri, Pikirkan, dan Bertindak

Gunakan empat langkah berikut ketika menghadapi situasi yang memancing emosi.

1. BERHENTI

Jangan langsung bereaksi, membalas ejekan, atau mengambil keputusan.

2. TENANGKAN DIRI

Atur napas, berdiam sejenak, berdoa, dan beri waktu agar pikiran lebih jernih.

3. PIKIRKAN

Apa penyebabnya? Apa akibat tindakan saya? Respons apa yang paling tepat?

4. BERTINDAK

Sampaikan perasaan dengan sopan, cari solusi, dan mintalah bantuan jika diperlukan.

Contoh penerapan:

Ketika nilai ulangan tidak sesuai harapan, jangan langsung menyalahkan diri sendiri atau orang lain. Tenangkan diri, evaluasi cara belajar, tanyakan bagian yang belum dipahami kepada guru, dan buat rencana belajar yang lebih baik.

Ketika berselisih dengan teman, hindari membalas dengan kata-kata kasar. Sampaikan keberatan dengan tenang, dengarkan penjelasan teman, dan cari penyelesaian yang adil.

G. KEGIATAN LAYANAN

Aktivitas: “Apa yang Akan Saya Lakukan?”

Guru BK memberikan situasi berikut kepada peserta didik.

Situasi 1

Kamu sedang berbicara, tetapi temanmu memotong pembicaraan dan menertawakan pendapatmu.

Situasi 2

Kamu memperoleh nilai ulangan yang lebih rendah daripada yang diharapkan.

Situasi 3

Kamu membaca komentar negatif tentang dirimu di media sosial.

Tugas peserta didik:

  1. Sebutkan emosi yang mungkin muncul.

  2. Jelaskan penyebab emosi tersebut.

  3. Tuliskan reaksi spontan yang sebaiknya dihindari.

  4. Tentukan respons yang lebih baik dan bertanggung jawab.

Peserta didik mendiskusikan jawaban secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Beberapa kelompok menyampaikan hasil diskusi, kemudian guru BK memberikan penguatan bahwa setiap orang dapat memiliki perasaan yang berbeda terhadap situasi yang sama.

H. REFLEKSI

Peserta didik menjawab pertanyaan berikut secara jujur berdasarkan pengalaman masing-masing.

  1. Emosi apa yang paling sulit saya kelola?

  2. Situasi apa yang biasanya memicu emosi tersebut?

  3. Apa yang biasanya saya lakukan ketika emosi muncul?

  4. Cara apa yang akan saya coba untuk mengelola emosi dengan lebih baik?

  5. Bagaimana saya dapat menerapkan ajaran Islam tentang kesabaran dan pengendalian diri?

Komitmen diri:

“Mulai hari ini, saya akan berusaha mengenali emosi, menenangkan diri sebelum bertindak, berbicara dengan sopan, dan menyelesaikan masalah tanpa menyakiti diri sendiri maupun orang lain.”

I. PESAN PENUTUP

Anak-anakku yang Bapak banggakan,

Jadilah pelajar yang mampu mengelola emosi dengan baik. Jangan biarkan kemarahan menguasai perkataan dan tindakanmu. Belajarlah untuk sabar ketika menghadapi kesulitan, rendah hati ketika memperoleh keberhasilan, berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dan mampu memaafkan tanpa mengabaikan batasan diri.

Ingatlah bahwa mengelola emosi adalah keterampilan yang perlu dilatih setiap hari. Kalian tidak harus selalu sempurna, tetapi teruslah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Semoga Allah Swt. membimbing kita agar menjadi generasi yang beriman, berakhlak mulia, mampu mengendalikan diri, dan membawa kebaikan bagi sesama.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pergaulan dan tata krama remaja

 A. IDENTITAS



Nama Guru

Yulian Wilyanus

Mata Pelajaran

Bimbingan Konseling

Hari/Tanggal

Senin, 19 Oktober 2026

Fase/Kelas

D / 7 C.

Judul Materi

Pergaulan dan Tata Krama

Pertemuan Ke-


B. CAPAIAN LAYANAN

Pada akhir Fase D, peserta didik mampu memahami dan mengembangkan potensi diri secara positif, memiliki kesadaran diri, mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab, serta menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama, moral, dan norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam layanan ini, peserta didik diarahkan untuk memahami etika pergaulan dan tata krama serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

C. TUJUAN LAYANAN

Setelah mengikuti layanan bimbingan klasikal, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian etika pergaulan dan tata krama.

  2. Mengidentifikasi perilaku yang baik dan kurang baik dalam pergaulan sehari-hari.

  3. Menunjukkan sikap sopan santun kepada orang tua, guru, teman, dan masyarakat.

  4. Menerapkan komunikasi yang santun secara langsung maupun melalui media sosial.

  5. Menghargai perbedaan pendapat, menjaga perasaan orang lain, dan menghindari perilaku perundungan.

  6. Membiasakan perilaku terpuji sesuai dengan ajaran Islam dan norma yang berlaku.

D. LAYANAN MENDALAM

1. Mindful (Berkesadaran)

Peserta didik mampu menyadari bahwa setiap perkataan dan tindakan memiliki dampak terhadap perasaan orang lain. Peserta didik memahami pentingnya menjaga sikap, ucapan, ekspresi, dan perilaku ketika berinteraksi dengan orang lain.

2. Meaningful (Bermakna)

Peserta didik mampu menghubungkan pemahaman tentang etika pergaulan dan tata krama dengan pengalaman sehari-hari, seperti menghormati guru, berbicara santun kepada orang tua, menghargai teman, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, serta menggunakan media sosial secara bijaksana.

3. Joyful (Menyenangkan)

Peserta didik terlibat aktif melalui kegiatan yang menyenangkan, interaktif, dan reflektif, seperti:

  • Permainan peran tentang perilaku sopan dan tidak sopan.

  • Diskusi kelompok mengenai etika bergaul dengan teman sebaya.

  • Kuis singkat tentang tata krama di sekolah dan media sosial.

  • Simulasi mengucapkan salam, meminta izin, mengucapkan terima kasih, dan meminta maaf.

  • Refleksi tentang kebiasaan baik yang akan diterapkan setiap hari.

E. ALUR TUJUAN LAYANAN

1. Eksplorasi dan Identifikasi

Peserta didik diajak mengenali:

  • Pengertian etika pergaulan dan tata krama.

  • Contoh perilaku sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.

  • Perbedaan perilaku yang menghargai orang lain dan perilaku yang menyakiti perasaan orang lain.

  • Pentingnya menghormati orang tua, guru, teman, dan masyarakat.

2. Analisis dan Kontekstualisasi

Peserta didik menganalisis situasi yang sering terjadi, seperti memotong pembicaraan, mengejek teman, menggunakan kata-kata kasar, tidak meminta izin, menyebarkan foto teman tanpa persetujuan, atau menulis komentar yang menyakitkan di media sosial.

Peserta didik mendiskusikan akibat dari perilaku tersebut dan menentukan cara menyikapinya secara santun, bijaksana, dan bertanggung jawab.

3. Sintesis dan Rekonstruksi

Peserta didik mengolah kembali pemahaman tentang etika pergaulan dan tata krama menjadi kebiasaan nyata, seperti berbicara sopan, menghormati orang lain, menjaga rahasia, meminta maaf ketika bersalah, serta membiasakan diri berpikir sebelum berbicara atau bertindak.

F. MATERI PEMBELAJARAN

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

الـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا وَحَبِيبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin, wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wa habiibinaa Muhammadin wa 'alaa aalihii wa shahbihii ajma'iin. Amma ba'du.

Anak-anakku yang Bapak banggakan,

Marilah kita bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita. Semoga kita senantiasa mendapatkan petunjuk-Nya agar menjadi pribadi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan mampu menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

Pada kesempatan ini, kita akan mempelajari materi “Etika Pergaulan dan Tata Krama.” Sebagai pelajar, kita tidak hanya dituntut untuk memiliki ilmu pengetahuan, tetapi juga harus memiliki sikap sopan santun, menghormati orang lain, serta mampu menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Ilmu yang tinggi akan semakin bermanfaat apabila disertai akhlak yang baik. Oleh karena itu, mari kita belajar membiasakan perilaku terpuji mulai dari hal-hal sederhana.

1. Pengertian Etika Pergaulan dan Tata Krama

Etika pergaulan adalah pedoman tentang perilaku yang baik dan pantas ketika berinteraksi dengan orang lain berdasarkan nilai moral, agama, dan norma yang berlaku.

Tata krama adalah aturan atau kebiasaan sopan santun yang diterapkan dalam berbicara, bersikap, dan bertindak ketika berhubungan dengan orang lain.

Dengan demikian, etika pergaulan dan tata krama merupakan pedoman bagi seseorang untuk membangun hubungan yang baik, saling menghormati, menjaga perasaan orang lain, dan menciptakan suasana yang nyaman dalam kehidupan bersama.

Contohnya adalah mengucapkan salam ketika bertemu, berbicara dengan bahasa yang sopan, meminta izin sebelum menggunakan barang orang lain, mendengarkan ketika orang lain berbicara, dan mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan.

2. Pentingnya Etika Pergaulan dan Tata Krama

Etika pergaulan dan tata krama sangat penting karena dapat membantu kita:

  1. Menumbuhkan rasa hormat. Kita belajar menghargai orang tua, guru, teman, dan orang lain tanpa membeda-bedakan.

  2. Membangun persahabatan yang sehat. Sikap sopan dan saling menghargai membantu menciptakan hubungan yang nyaman.

  3. Mencegah konflik. Berbicara dengan baik dan mendengarkan orang lain dapat mengurangi kesalahpahaman.

  4. Membentuk karakter positif. Tata krama melatih kita menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan rendah hati.

  5. Menjaga nama baik diri dan keluarga. Perilaku yang baik mencerminkan karakter seseorang.

  6. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Setiap orang merasa dihargai dan tidak takut menjadi sasaran ejekan atau penghinaan.

Ingatlah, sopan santun bukan hanya ditunjukkan ketika bertemu guru atau orang yang lebih tua, tetapi juga ketika bergaul dengan teman sebaya, adik kelas, petugas sekolah, dan orang lain.

3. Bentuk-Bentuk Etika Pergaulan dan Tata Krama

a. Tata krama kepada orang tua

  • Berbicara dengan lembut dan sopan.

  • Mendengarkan nasihat yang baik.

  • Membantu pekerjaan rumah sesuai kemampuan.

  • Meminta izin ketika hendak bepergian.

  • Mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan mereka.

b. Tata krama kepada guru

  • Mengucapkan salam ketika bertemu.

  • Mendengarkan penjelasan dengan baik.

  • Meminta izin sebelum meninggalkan kelas.

  • Mengajukan pertanyaan dengan bahasa yang santun.

  • Menghargai teguran dan arahan yang membangun.

c. Tata krama kepada teman

  • Menghargai perbedaan pendapat dan kemampuan.

  • Tidak mengejek nama, penampilan, keluarga, atau kekurangan teman.

  • Tidak memaksakan kehendak.

  • Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

  • Membantu teman yang mengalami kesulitan.

  • Tidak ikut menyebarkan gosip atau mempermalukan orang lain.

d. Tata krama di lingkungan masyarakat

  • Menghormati tetangga dan orang yang lebih tua.

  • Menjaga kebersihan dan ketertiban.

  • Mengantre dengan tertib.

  • Meminta izin sebelum meminjam barang.

  • Menghargai aturan yang berlaku di lingkungan sekitar.

e. Tata krama dalam menggunakan media sosial

  • Menggunakan bahasa yang sopan dalam komentar dan pesan.

  • Tidak menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.

  • Tidak mengunggah foto atau video orang lain tanpa izin.

  • Tidak menghina, mengancam, atau mempermalukan orang lain di dunia maya.

  • Menjaga informasi pribadi dan menghormati privasi orang lain.

  • Berpikir terlebih dahulu sebelum mengirim pesan atau mengunggah sesuatu.

Perlu diingat bahwa etika di dunia digital sama pentingnya dengan etika ketika berhadapan langsung. Tulisan yang kita kirimkan dapat memengaruhi perasaan dan kehidupan orang lain.

4. Allah SWT Mengajarkan Kita untuk Menjaga Etika dan Akhlak

Islam mengajarkan umatnya untuk berkata baik, menghormati sesama, dan menjauhi perilaku yang merendahkan orang lain.

a. Larangan mengejek dan merendahkan orang lain

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 11, petikan ayat)

Ayat ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh menghina, mengejek, atau merendahkan orang lain. Setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Dalam kehidupan sekolah, kita tidak boleh menjadikan kekurangan teman sebagai bahan candaan yang menyakitkan. Candaan yang membuat orang lain merasa direndahkan perlu dihentikan.

b. Berbicara dengan perkataan yang baik

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 83:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Artinya:

“Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83, petikan ayat)

Ayat tersebut mengingatkan kita untuk menjaga ucapan kepada siapa pun. Berbicara dengan baik bukan berarti harus selalu setuju dengan orang lain, melainkan menyampaikan pendapat dengan santun tanpa menghina atau menyakiti.

Ketika berbeda pendapat dengan teman, kita dapat mengatakan, “Menurut saya, ada pendapat lain yang bisa kita pertimbangkan,” daripada membentak atau mengejeknya.

c. Hadis Nabi Muhammad SAW tentang berkata baik

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang muslim harus berhati-hati dalam berbicara. Sebelum mengucapkan sesuatu, kita perlu memikirkan apakah perkataan tersebut bermanfaat, benar, dan tidak menyakiti orang lain.

Jika belum dapat berkata baik, lebih baik menahan diri daripada mengucapkan kata-kata kasar atau menyebarkan fitnah.

d. Hadis tentang akhlak yang baik

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim, makna hadis)

Hadis ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya dilihat dari kepandaian atau prestasinya, tetapi juga dari akhlaknya.

Pelajar yang baik adalah pelajar yang rajin belajar, menghormati guru, menyayangi teman, menjaga ucapan, dan bertanggung jawab atas tindakannya.

5. Perilaku yang Harus Dihindari dalam Pergaulan

Ada beberapa perilaku yang perlu dihindari agar hubungan dengan orang lain tetap baik.

Perilaku yang harus dihindari

Sikap yang sebaiknya dilakukan

Berbicara kasar

Menggunakan bahasa yang sopan

Mengejek teman

Menghargai perbedaan

Memotong pembicaraan

Mendengarkan sampai selesai

Memaksakan pendapat

Berdiskusi dan menghargai pendapat lain

Menyebarkan gosip

Menjaga rahasia dan memeriksa kebenaran informasi

Mengambil barang tanpa izin

Meminta izin terlebih dahulu

Menghina di media sosial

Menulis komentar yang santun atau tidak berkomentar

Tidak mengakui kesalahan

Meminta maaf dan memperbaiki perilaku

Apabila melihat teman diperlakukan secara tidak baik, jangan ikut mengejek atau menyebarkan kejadian tersebut. Berikan dukungan kepada teman yang menjadi sasaran, dan mintalah bantuan guru atau orang dewasa tepercaya apabila perilaku tersebut berulang atau membahayakan.

6. Cara Menerapkan Etika Pergaulan dalam Kehidupan Sehari-hari

Untuk membangun pergaulan yang sehat, kita dapat menerapkan kebiasaan berikut:

  1. Membiasakan mengucapkan salam ketika bertemu.

  2. Menggunakan kata “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih” pada waktu yang tepat.

  3. Mendengarkan orang lain tanpa memotong pembicaraan.

  4. Menghargai perbedaan agama, pendapat, kebiasaan, dan kemampuan.

  5. Menjaga rahasia serta tidak menyebarkan informasi pribadi orang lain.

  6. Mengakui kesalahan dan bersedia memperbaikinya.

  7. Memilih teman yang mendorong kita melakukan hal-hal positif.

  8. Menjaga sopan santun, baik di dunia nyata maupun di media sosial.

  9. Berpikir sebelum berbicara atau bertindak.

  10. Membiasakan diri berdoa dan memohon bimbingan Allah SWT agar memiliki akhlak yang mulia.

Perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Membiasakan satu perilaku baik setiap hari dapat membantu membentuk karakter yang lebih santun dan bertanggung jawab.

7. Aktivitas Reflektif: “Sudahkah Aku Bersikap Santun?”

Anak-anakku, cobalah perhatikan beberapa situasi berikut.

  • Ketika guru sedang menjelaskan, apakah kamu mendengarkan atau justru berbicara sendiri?

  • Ketika teman melakukan kesalahan, apakah kamu membantu atau malah mengejeknya?

  • Ketika pendapatmu berbeda dengan teman, apakah kamu tetap berbicara dengan sopan?

  • Ketika menerima pesan yang menghina seseorang, apakah kamu ikut menyebarkannya atau memilih tidak terlibat?

  • Ketika melakukan kesalahan, apakah kamu berani meminta maaf?

Pilihlah satu kebiasaan yang masih perlu diperbaiki. Tuliskan tindakan nyata yang akan kamu lakukan mulai hari ini.

Contoh komitmen: “Saya akan membiasakan diri berbicara sopan, tidak mengejek teman, mendengarkan orang lain, dan meminta maaf apabila melakukan kesalahan.”

G. KEGIATAN LAYANAN

1. Kegiatan Pembuka

Guru BK membuka kegiatan dengan salam dan doa, menyampaikan tujuan layanan, serta mengajak peserta didik berbagi contoh perilaku sopan santun yang pernah mereka lakukan atau lihat.

2. Kegiatan Inti

  • Guru BK menjelaskan pengertian dan pentingnya etika pergaulan.

  • Peserta didik mengamati contoh situasi pergaulan di sekolah dan media sosial.

  • Peserta didik berdiskusi dalam kelompok untuk menentukan perilaku yang tepat.

  • Setiap kelompok mempraktikkan dialog singkat tentang cara menyampaikan pendapat, meminta maaf, atau menyelesaikan kesalahpahaman dengan santun.

  • Guru BK memberikan penguatan berdasarkan nilai-nilai Islam dan norma yang berlaku.

3. Kegiatan Penutup

Peserta didik menyimpulkan materi, menyampaikan satu hal yang dipelajari, dan menuliskan satu kebiasaan baik yang akan diterapkan selama satu minggu ke depan. Guru BK memberikan motivasi dan menutup kegiatan dengan doa serta salam.

H. REFLEKSI

Jawablah pertanyaan berikut secara jujur.

  1. Apa yang saya pahami tentang etika pergaulan dan tata krama?

  2. Mengapa saya harus menghormati orang lain meskipun memiliki pendapat yang berbeda?

  3. Perilaku apa yang perlu saya perbaiki ketika bergaul dengan teman?

  4. Bagaimana cara saya menggunakan media sosial secara santun dan bertanggung jawab?

  5. Kebiasaan baik apa yang akan saya lakukan mulai hari ini?

I. PESAN PENUTUP

Anak-anakku yang Bapak banggakan,

Jadilah pelajar yang memiliki etika pergaulan dan tata krama yang baik. Hormatilah orang tua, sayangilah teman, hargailah guru, dan bersikaplah santun kepada siapa pun.

Ingatlah bahwa perkataan yang baik dapat menyenangkan hati orang lain, sedangkan perkataan yang buruk dapat menimbulkan luka dan perselisihan. Oleh karena itu, jagalah lisan, perilaku, dan tulisan kita, termasuk ketika menggunakan media sosial.

Jangan merasa hebat dengan merendahkan orang lain. Justru orang yang berakhlak mulia adalah orang yang mampu menghargai sesama, mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memperbaiki diri.

Mari kita jadikan sopan santun sebagai kebiasaan, bukan hanya dilakukan ketika diawasi guru atau orang tua. Semoga kita menjadi generasi yang cerdas, beriman, berakhlak mulia, dan mampu menciptakan pergaulan yang aman, nyaman, serta penuh rasa hormat.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

MATERI BIMBINGAN KLASIKAL (BK) KELAS VII KOMUNIKASI EFEKTIF Nama Guru: Yulian Wilyanus Mata Pelajaran: Bimbingan Konseling Fase/Kelas: D / V...