Selasa, 03 November 2026

Tidak mengejek • Tidak menghina • Tidak mengucilkan

 

A. IDENTITAS

Komponen

Keterangan

Nama Guru

Yulian Wilyanus

Mata Pelajaran

Bimbingan Konseling

Hari/Tanggal

Selasa, 3 November 2026

Fase/Kelas

D / 7 A dan E

Judul Materi

Anti-Bullying (Pencegahan Perundungan)

Pertemuan Ke-

Disesuaikan dengan program layanan

B. CAPAIAN LAYANAN

Pada akhir Fase D, peserta didik mampu memahami dan mengembangkan potensi diri secara positif, memiliki kesadaran diri, mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab, serta menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama, moral, dan norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam layanan ini, peserta didik diarahkan untuk memahami pengertian bullying, mengenali berbagai bentuk perundungan, memahami dampak negatifnya, serta mengembangkan sikap saling menghargai, peduli, dan bertanggung jawab dalam mencegah terjadinya perundungan di lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari.

C. TUJUAN LAYANAN

Setelah mengikuti layanan bimbingan klasikal, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian bullying atau perundungan dengan benar.

  2. Mengidentifikasi berbagai bentuk bullying yang terjadi di lingkungan sekolah.

  3. Menjelaskan dampak perundungan terhadap korban, pelaku, dan lingkungan sekitar.

  4. Menunjukkan sikap empati, peduli, dan menghargai perbedaan antarteman.

  5. Memahami cara mencegah dan menyikapi tindakan bullying secara tepat.

  6. Berani meminta bantuan kepada guru, orang tua, atau pihak sekolah ketika melihat atau mengalami perundungan.

  7. Membiasakan perilaku saling menghormati dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas perundungan.

D. LAYANAN MENDALAM

1. Mindful (Berkesadaran)

Peserta didik mampu menyadari bahwa setiap perkataan dan tindakan memiliki dampak terhadap perasaan orang lain. Peserta didik diajak memahami pentingnya mengendalikan ucapan, menghargai perbedaan, serta tidak melakukan tindakan yang dapat menyakiti teman, baik secara fisik maupun psikologis.

2. Meaningful (Bermakna)

Peserta didik mampu menghubungkan materi anti-bullying dengan pengalaman kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, rumah, maupun lingkungan pertemanan. Peserta didik memahami bahwa menghargai teman, saling membantu, dan tidak merendahkan orang lain merupakan bagian dari akhlak mulia.

3. Joyful (Menyenangkan)

Peserta didik terlibat aktif melalui kegiatan yang menyenangkan, interaktif, dan reflektif, seperti:

  • Permainan tebak perilaku: termasuk bullying atau bukan.

  • Diskusi kelompok mengenai contoh perundungan di sekolah.

  • Bermain peran tentang cara mencegah bullying.

  • Membuat poster bertema STOP BULLYING.

  • Menyampaikan pesan positif kepada teman.

E. ALUR TUJUAN LAYANAN

1. Eksplorasi dan Identifikasi

Peserta didik diajak mengenali:

  • Pengertian bullying atau perundungan.

  • Ciri-ciri perilaku bullying.

  • Jenis-jenis perundungan yang sering terjadi.

  • Perbedaan antara bercanda yang sehat dan tindakan perundungan.

2. Analisis dan Kontekstualisasi

Peserta didik menganalisis:

  • Penyebab seseorang melakukan bullying.

  • Dampak bullying terhadap kondisi perasaan, kepercayaan diri, dan hubungan sosial korban.

  • Situasi perundungan yang mungkin terjadi di kelas atau lingkungan sekolah.

  • Cara yang tepat untuk membantu teman yang mengalami perundungan.

3. Sintesis dan Rekonstruksi

Peserta didik mengolah kembali pemahaman tentang pentingnya mencegah bullying dengan cara:

  • Membiasakan berbicara sopan dan menghargai teman.

  • Tidak ikut mengejek atau mengucilkan orang lain.

  • Berani melaporkan tindakan perundungan kepada guru.

  • Menjadi teman yang peduli dan saling melindungi.

  • Membuat komitmen bersama untuk mewujudkan sekolah bebas bullying.

F. MATERI PEMBELAJARAN

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ.

Alhamdulillaahi robbil 'aalamiin, wassholaatu wassalaamu 'alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa Muhammadin, wa'ala aalihi washahbihi ajma'iin, wa man tabi'ahum biihsaanin ilaa yaumiddiin. Amma ba'du.

Anak-anakku yang Bapak banggakan,

Bersyukur kita kepada Allah SWT karena pada hari ini kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk belajar bersama.

Pada kesempatan ini, kita akan membahas materi tentang Anti-Bullying (Pencegahan Perundungan).

Anak-anakku, sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan untuk belajar. Setiap peserta didik memiliki hak untuk dihargai, dihormati, dan diperlakukan dengan baik.

Oleh karena itu, kita harus memahami bahwa mengejek, menghina, mengancam, memukul, atau mengucilkan teman bukanlah perilaku yang baik. Mari kita membangun persahabatan yang sehat dengan saling menghargai dan menyayangi sesama.

1. Pengertian Anti-Bullying dan Pencegahan Perundungan

Bullying atau perundungan adalah tindakan menyakiti, merendahkan, mengintimidasi, atau mengganggu orang lain secara sengaja dan biasanya dilakukan berulang kali, terutama ketika terdapat ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban.

Anti-bullying merupakan sikap dan tindakan menolak segala bentuk perundungan serta berusaha menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan saling menghargai.

Perundungan bukanlah bentuk persahabatan atau candaan. Sesuatu yang dianggap lucu oleh seseorang belum tentu menyenangkan bagi orang lain.

2. Jenis-Jenis Bullying

Ada beberapa bentuk perundungan yang perlu kita ketahui.

a. Bullying Fisik

Perundungan yang dilakukan melalui tindakan fisik terhadap orang lain.

Contoh:

  • Memukul atau menendang teman.

  • Mendorong teman dengan sengaja.

  • Merusak atau mengambil barang milik teman.

  • Menghalangi teman secara sengaja dengan tujuan mengintimidasi.

b. Bullying Verbal

Perundungan yang dilakukan melalui perkataan yang menyakitkan.

Contoh:

  • Mengejek nama atau kondisi fisik teman.

  • Memberikan julukan yang merendahkan.

  • Menghina keluarga teman.

  • Mengancam atau mengintimidasi teman.

c. Bullying Sosial

Perundungan yang dilakukan dengan merusak hubungan sosial seseorang.

Contoh:

  • Sengaja mengucilkan teman dari kelompok.

  • Mengajak teman lain untuk menjauhi seseorang.

  • Menyebarkan gosip yang merugikan teman.

  • Mempermalukan teman di hadapan orang lain.

d. Cyberbullying

Perundungan yang dilakukan melalui media digital atau internet.

Contoh:

  • Mengirim pesan hinaan melalui media sosial.

  • Menyebarkan foto teman tanpa izin untuk mempermalukannya.

  • Memberikan komentar kasar di media sosial.

  • Membuat unggahan yang bertujuan merendahkan orang lain.

3. Penyebab Terjadinya Bullying

Beberapa faktor yang dapat mendorong seseorang melakukan perundungan antara lain:

  1. Ingin dianggap kuat atau hebat oleh teman-temannya.

  2. Kurangnya rasa empati terhadap orang lain.

  3. Ingin mendapatkan perhatian atau pengakuan.

  4. Terpengaruh lingkungan pertemanan yang negatif.

  5. Kurangnya kemampuan mengendalikan emosi.

  6. Menganggap mengejek atau merendahkan orang lain sebagai candaan.

Perlu dipahami bahwa apa pun alasannya, melakukan perundungan bukanlah tindakan yang dapat dibenarkan.

4. Dampak Negatif Bullying

Perundungan dapat memberikan dampak buruk bagi berbagai pihak.

Bagi korban:

  • Merasa sedih, takut, dan tidak nyaman.

  • Kehilangan rasa percaya diri.

  • Kesulitan berkonsentrasi dalam belajar.

  • Tidak nyaman berada di lingkungan sekolah.

  • Mengalami kesulitan dalam menjalin pertemanan.

Bagi pelaku:

  • Dijauhi oleh teman-temannya.

  • Mendapatkan teguran atau sanksi sesuai aturan sekolah.

  • Kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat.

  • Terbiasa menyelesaikan masalah dengan cara yang salah.

Bagi lingkungan sekolah:

  • Suasana belajar menjadi tidak nyaman.

  • Hubungan antarteman menjadi kurang harmonis.

  • Menurunnya rasa aman dan kebersamaan.

5. Cara Mencegah dan Mengatasi Bullying

Anak-anakku, kita semua memiliki tanggung jawab untuk mencegah perundungan.

Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah:

  1. Menghargai perbedaan fisik, kemampuan, latar belakang, dan pendapat teman.

  2. Menggunakan bahasa yang sopan dan tidak menyakiti perasaan orang lain.

  3. Tidak ikut menertawakan atau mendukung tindakan perundungan.

  4. Berteman dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan.

  5. Membantu teman yang sedang mengalami kesulitan.

  6. Berani melaporkan perundungan kepada guru BK, wali kelas, atau orang dewasa yang dipercaya.

  7. Menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.

Ingat 3 langkah penting ketika melihat bullying:

  • Jangan ikut-ikutan: Jangan mendukung atau menyebarkan tindakan perundungan.

  • Berikan dukungan: Temani dan dengarkan teman yang menjadi korban.

  • Laporkan: Sampaikan kejadian kepada guru atau orang dewasa yang dapat membantu.

Jangan menghadapi pelaku dengan kekerasan atau menempatkan diri dalam situasi berbahaya.

6. Contoh Perilaku Anti-Bullying dalam Kehidupan Sehari-hari

Situasi

Perilaku yang Seharusnya Dilakukan

Ada teman yang berbeda pendapat

Menghargai pendapatnya

Teman melakukan kesalahan

Mengingatkan dengan sopan

Ada teman yang dikucilkan

Mengajaknya bergabung

Melihat teman diejek

Tidak ikut mengejek dan melaporkan

Mendapat pesan hinaan di media sosial

Tidak membalas dengan hinaan dan meminta bantuan

Ada teman yang kesulitan belajar

Membantu dan memberikan semangat

7. Landasan Al-Qur'an dan Hadis tentang Larangan Menghina dan Menyakiti Orang Lain

a. QS. Al-Hujurat Ayat 11

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ

Artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)."

(QS. Al-Hujurat: 11)

Pesan ayat:

Allah SWT melarang kita menghina, mengejek, dan merendahkan orang lain. Kita tidak boleh merasa lebih baik daripada teman karena setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

b. QS. Al-Hujurat Ayat 12

Allah SWT mengingatkan agar kita menjauhi prasangka buruk, mencari-cari kesalahan orang lain, dan menggunjing.

Pesan ayat:

Jangan menyebarkan gosip, mempermalukan teman, atau membicarakan keburukan orang lain.

c. Hadis tentang Menjaga Lisan dan Tangan

Rasulullah SAW bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Artinya:

"Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan hadis:

Seorang Muslim harus menjaga perkataan dan perbuatannya agar tidak menyakiti orang lain. Oleh karena itu, kita harus membiasakan berbicara baik, menjaga sikap, dan tidak melakukan perundungan.

8. Komitmen Pelajar Anti-Bullying

Sebagai peserta didik yang berakhlak mulia, mari kita membangun komitmen:

  • Saya tidak akan mengejek atau menghina teman.

  • Saya tidak akan melakukan kekerasan kepada siapa pun.

  • Saya akan menghargai perbedaan.

  • Saya akan membantu teman yang mengalami kesulitan.

  • Saya tidak akan menyebarkan berita atau foto yang mempermalukan orang lain.

  • Saya berani melaporkan tindakan bullying kepada guru.

  • Saya akan menjadi bagian dari terciptanya sekolah yang aman dan nyaman.

G. KEGIATAN PEMBELAJARAN

1. Kegiatan Pendahuluan

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam dan doa.

  • Guru mengecek kehadiran peserta didik.

  • Guru memberikan motivasi tentang pentingnya menghargai sesama.

  • Guru menyampaikan tujuan layanan.

  • Guru memberikan pertanyaan pemantik.

Pertanyaan pemantik:

  1. Pernahkah kalian melihat teman diejek atau dikucilkan?

  2. Bagaimana perasaan kalian jika berada pada posisi teman yang diejek?

  3. Apakah mengejek teman dengan alasan bercanda dapat dibenarkan?

  4. Apa yang akan kalian lakukan jika melihat teman mengalami bullying?

  5. Mengapa kita harus saling menghargai meskipun memiliki perbedaan?

2. Kegiatan Inti

  • Guru menjelaskan pengertian dan jenis-jenis bullying.

  • Peserta didik mengamati contoh perilaku perundungan.

  • Peserta didik berdiskusi mengenai dampak bullying.

  • Peserta didik mengerjakan permainan edukatif.

  • Peserta didik membuat slogan atau poster anti-bullying.

  • Peserta didik menyampaikan hasil diskusi.

3. Kegiatan Penutup

  • Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi.

  • Peserta didik menyampaikan refleksi pembelajaran.

  • Guru memberikan penguatan tentang pentingnya menjaga persaudaraan.

  • Guru mengajak peserta didik mengucapkan komitmen anti-bullying.

  • Pembelajaran ditutup dengan doa dan salam.

H. REFLEKSI

Peserta didik diajak merenungkan beberapa pertanyaan berikut:

  1. Apa pengetahuan baru yang saya dapatkan dari materi anti-bullying?

  2. Apakah selama ini saya sudah memperlakukan teman dengan baik?

  3. Apakah saya pernah ikut menertawakan atau mengejek teman?

  4. Apa yang akan saya lakukan jika melihat tindakan perundungan?

  5. Perubahan perilaku apa yang akan saya lakukan setelah mengikuti pembelajaran ini?

Refleksi pribadi:

"Saya berjanji akan menjaga perkataan dan perbuatan, menghargai teman, tidak melakukan perundungan, serta berani membantu teman yang mengalami bullying."

I. ASESMEN

1. Asesmen Diagnostik

Dilakukan sebelum pembelajaran untuk mengetahui pemahaman awal peserta didik.

Pertanyaan:

  • Apa yang kamu ketahui tentang bullying?

  • Apakah mengejek teman termasuk perilaku yang baik?

  • Apa yang kamu lakukan jika melihat teman dikucilkan?

2. Asesmen Formatif

Dilakukan selama proses pembelajaran melalui:

  • Keaktifan dalam diskusi.

  • Kemampuan mengidentifikasi bentuk bullying.

  • Sikap menghargai pendapat teman.

  • Partisipasi dalam permainan dan kegiatan kelompok.

3. Asesmen Sumatif

Jawablah pertanyaan berikut dengan benar!

  1. Jelaskan pengertian bullying atau perundungan!

  2. Sebutkan empat jenis bullying beserta contohnya!

  3. Mengapa tindakan bullying harus dicegah?

  4. Apa dampak bullying bagi korban?

  5. Apa yang harus dilakukan jika melihat teman mengalami perundungan?

  6. Jelaskan pesan QS. Al-Hujurat ayat 11 berkaitan dengan perilaku anti-bullying!

  7. Sebutkan tiga contoh perilaku yang menunjukkan sikap anti-bullying!

  8. Mengapa kita harus menjaga perkataan dan perbuatan terhadap teman?

Kunci jawaban singkat:

  1. Tindakan menyakiti atau merendahkan orang lain secara sengaja dan biasanya berulang.

  2. Fisik, verbal, sosial, dan cyberbullying.

  3. Karena merugikan korban dan merusak lingkungan pertemanan.

  4. Menimbulkan rasa takut, sedih, kehilangan kepercayaan diri, dan terganggunya kegiatan belajar.

  5. Memberikan dukungan, tidak ikut-ikutan, dan melaporkan kepada guru.

  6. Larangan mengolok-olok dan merendahkan orang lain.

  7. Menghargai teman, tidak mengejek, dan membantu teman.

  8. Agar tidak menyakiti perasaan orang lain dan tercipta hubungan yang harmonis.

J. KESIMPULAN MATERI

Bullying atau perundungan merupakan tindakan yang dapat menyakiti orang lain, baik secara fisik, verbal, sosial, maupun melalui media digital. Perundungan bukanlah candaan yang dapat dibenarkan karena dapat memberikan dampak negatif bagi korban, pelaku, dan lingkungan sekolah.

Pencegahan bullying dapat dilakukan dengan membiasakan sikap saling menghargai, menjaga perkataan, mengendalikan emosi, menumbuhkan empati, dan berani melaporkan tindakan perundungan kepada pihak yang tepat.

Dalam ajaran Islam, Allah SWT melarang manusia saling menghina dan merendahkan. Oleh karena itu, sebagai pelajar Muslim, kita harus menjaga lisan, tangan, dan perilaku agar tidak menyakiti orang lain.

K. KESIMPULAN HASIL PEMBELAJARAN

Setelah mengikuti layanan bimbingan klasikal, peserta didik diharapkan memahami bahwa setiap orang berhak mendapatkan perlakuan yang baik dan dihargai.

Peserta didik mampu mengenali bentuk-bentuk bullying, memahami dampaknya, serta mengetahui langkah-langkah pencegahannya. Melalui kegiatan pembelajaran yang menyenangkan, bermakna, dan penuh kesadaran, peserta didik diharapkan mampu menerapkan perilaku anti-bullying dalam kehidupan sehari-hari.

Indikator keberhasilan layanan:

  • Peserta didik memahami pengertian dan jenis-jenis bullying.

  • Peserta didik mampu membedakan candaan sehat dengan perundungan.

  • Peserta didik menunjukkan sikap empati dan menghargai teman.

  • Peserta didik mengetahui cara melaporkan perundungan.

  • Peserta didik berkomitmen menciptakan lingkungan sekolah bebas bullying.

L. PESAN PENUTUP

Anak-anakku yang Bapak banggakan,

Ingatlah bahwa setiap orang memiliki perasaan yang harus kita jaga. Jangan pernah merasa hebat dengan cara merendahkan orang lain. Kekuatan seorang pelajar bukan terletak pada keberanian menyakiti teman, melainkan pada kemampuan menghargai, melindungi, dan membantu sesama.

Jadilah pelajar yang berakhlak mulia, saling menghormati, peduli terhadap sesama, serta mampu mencegah perundungan di lingkungan sekolah.

Mari kita wujudkan sekolah yang:

STOP BULLYING!

BERSAMA KITA BISA!

Tidak mengejek • Tidak menghina • Tidak mengucilkan

Saling Menghargai, Saling Menyayangi, dan Saling Melindungi.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahiwabarokatuh.

Hidup Sehat Fisik dan Psikis

A. IDENTITAS



Nama Guru

Yulian Wilyanus

Mata Pelajaran

Bimbingan Konseling

Hari/Tanggal

Selasa, 3 November 2026

Fase/Kelas

D / 8 A, B

Judul Materi

Hidup Sehat Fisik dan Psikis

Pertemuan Ke-

Disesuaikan

B. CAPAIAN LAYANAN

Pada akhir Fase D, peserta didik mampu memahami dan mengembangkan potensi diri secara positif, memiliki kesadaran diri, mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab, serta menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama, moral, dan norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam layanan ini, peserta didik diarahkan untuk memahami pentingnya menjaga kesehatan fisik dan psikis serta mampu menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

C. TUJUAN LAYANAN

Setelah mengikuti layanan bimbingan klasikal, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian hidup sehat secara fisik dan psikis.

  2. Mengidentifikasi kebiasaan yang mendukung kesehatan tubuh dan mental.

  3. Memahami hubungan antara kesehatan fisik dan kesehatan psikis.

  4. Menyebutkan cara menjaga kesehatan fisik dan psikis dalam kehidupan sehari-hari.

  5. Menunjukkan sikap peduli terhadap kesehatan diri sendiri dan orang lain.

  6. Membiasakan perilaku hidup sehat sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

D. LAYANAN MENDALAM

1. Mindful (Berkesadaran)

Peserta didik mampu menyadari pentingnya menjaga kesehatan fisik dan psikis sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap diri sendiri. Peserta didik diajak mengenali kondisi tubuh, perasaan, pikiran, kebiasaan tidur, pola makan, serta aktivitas sehari-hari.

2. Meaningful (Bermakna)

Peserta didik mampu menghubungkan pengetahuan tentang hidup sehat dengan pengalaman kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Peserta didik memahami bahwa tubuh yang sehat dan pikiran yang positif dapat membantu mereka belajar, beribadah, berinteraksi, dan meraih cita-cita.

3. Joyful (Menyenangkan)

Peserta didik terlibat aktif melalui kegiatan yang menyenangkan, interaktif, dan reflektif, seperti:

  • Permainan tebak kebiasaan hidup sehat.

  • Diskusi kelompok tentang pola hidup sehat.

  • Simulasi memilih kebiasaan sehat dan tidak sehat.

  • Membuat poster sederhana bertema hidup sehat.

  • Berbagi pengalaman tentang cara menjaga kesehatan tubuh dan pikiran.

E. ALUR TUJUAN LAYANAN

1. Eksplorasi dan Identifikasi

Peserta didik diajak mengenali:

  • Pengertian kesehatan fisik dan psikis.

  • Kebiasaan sehari-hari yang memengaruhi kesehatan.

  • Pentingnya istirahat, olahraga, makanan bergizi, dan menjaga pikiran tetap positif.

  • Perasaan yang muncul ketika tubuh sehat atau sedang mengalami kelelahan.

2. Analisis dan Kontekstualisasi

Peserta didik menganalisis:

  • Dampak kurang tidur terhadap konsentrasi belajar.

  • Pengaruh makanan bergizi dan aktivitas fisik terhadap kesehatan tubuh.

  • Dampak stres dan emosi yang tidak dikelola dengan baik.

  • Pentingnya menjaga hubungan baik dengan teman, keluarga, dan lingkungan.

3. Sintesis dan Rekonstruksi

Peserta didik mengolah kembali pemahaman tentang hidup sehat dengan cara:

  • Menyusun kebiasaan hidup sehat yang dapat diterapkan setiap hari.

  • Membuat komitmen untuk menjaga kesehatan fisik dan psikis.

  • Menerapkan perilaku positif di sekolah maupun di rumah.

F. MATERI PEMBELAJARAN

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

الـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ.

Alhamdulillaahi robbil 'aalamiin, wassholaatu wassalaamu 'alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa Muhammadin, wa'ala aalihi washahbihi ajma'iin, wa man tabi'ahum biihsaanin ilaa yaumiddiin. Amma ba'du.

Anak-anakku yang Bapak banggakan,

Bersyukur kita kepada Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya kita masih diberikan kesehatan, kesempatan, dan kekuatan untuk belajar serta menjalankan aktivitas sehari-hari.

Pada kesempatan ini, kita akan membahas materi tentang Hidup Sehat Fisik dan Psikis.

Anak-anakku, pernahkah kalian merasa tubuh lelah, sulit berkonsentrasi, mudah marah, atau kurang bersemangat ketika mengikuti pelajaran? Hal tersebut dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan tubuh maupun pikiran kita.

Oleh karena itu, menjaga kesehatan bukan hanya tentang memiliki tubuh yang kuat, tetapi juga memiliki pikiran, perasaan, dan jiwa yang sehat.

1. Pengertian Hidup Sehat Fisik dan Psikis

A. Kesehatan Fisik

Kesehatan fisik adalah kondisi tubuh yang sehat, bugar, dan mampu menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik.

Contoh perilaku menjaga kesehatan fisik:

  • Mengonsumsi makanan bergizi dan seimbang.

  • Minum air putih yang cukup.

  • Berolahraga secara teratur.

  • Tidur dan beristirahat yang cukup.

  • Menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan.

  • Menghindari kebiasaan yang merugikan kesehatan.

B. Kesehatan Psikis

Kesehatan psikis adalah kondisi kesejahteraan mental dan emosional seseorang sehingga mampu mengenali perasaan, mengelola emosi, menghadapi tantangan, serta menjalin hubungan yang baik dengan orang lain.

Contoh perilaku menjaga kesehatan psikis:

  • Berpikir positif dan realistis.

  • Mampu mengendalikan emosi.

  • Berani mengungkapkan perasaan dengan baik.

  • Tidak mudah menyerah ketika menghadapi masalah.

  • Menjalin hubungan yang baik dengan teman dan keluarga.

  • Berani meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan.

2. Pentingnya Menjaga Kesehatan Fisik dan Psikis

Kesehatan fisik dan psikis saling berhubungan. Ketika tubuh sehat, seseorang biasanya lebih mudah melakukan aktivitas dan berkonsentrasi. Sebaliknya, ketika pikiran sedang terbebani, tubuh juga dapat merasakan kelelahan.

Manfaat menjaga kesehatan fisik dan psikis antara lain:

  1. Meningkatkan semangat belajar.

  2. Membantu meningkatkan konsentrasi.

  3. Membuat tubuh lebih bugar.

  4. Membantu mengelola emosi.

  5. Meningkatkan rasa percaya diri.

  6. Membantu membangun hubungan sosial yang baik.

  7. Membentuk kebiasaan hidup yang disiplin dan bertanggung jawab.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari:

Seorang peserta didik yang tidur cukup, sarapan sebelum berangkat sekolah, dan menjaga pikirannya tetap tenang biasanya lebih siap mengikuti pelajaran.

Sebaliknya, peserta didik yang sering begadang, melewatkan sarapan, dan membiarkan masalah terus membebani pikirannya dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi.

3. Cara Menjaga Kesehatan Fisik dan Psikis

A. Cara Menjaga Kesehatan Fisik

  • Membiasakan makan makanan bergizi.

  • Melakukan aktivitas fisik atau olahraga secara teratur.

  • Menjaga kebersihan diri.

  • Tidur cukup sesuai kebutuhan usia.

  • Mengurangi konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak secara berlebihan.

  • Menghindari rokok, alkohol, dan zat berbahaya lainnya.

B. Cara Menjaga Kesehatan Psikis

  • Membiasakan diri bersyukur.

  • Meluangkan waktu untuk beristirahat.

  • Beribadah dan berdoa kepada Allah SWT.

  • Berbagi cerita dengan orang tua, guru, atau orang yang dipercaya.

  • Menghindari perundungan dan pergaulan yang negatif.

  • Menggunakan media sosial secara bijak.

  • Belajar menerima kekurangan dan menghargai kelebihan diri sendiri.

  • Tidak memendam masalah sendirian.

Contoh penerapan di sekolah:

  1. Mengikuti kegiatan olahraga dengan semangat.

  2. Menjaga kebersihan kelas.

  3. Tidak mengejek atau merendahkan teman.

  4. Menyelesaikan masalah melalui komunikasi yang baik.

  5. Menghargai pendapat orang lain.

  6. Meminta bantuan guru BK ketika mengalami kesulitan.

4. Allah SWT Mengajarkan Kita untuk Selalu Hidup Sehat

Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kebersihan, kesehatan, dan keseimbangan hidup. Tubuh merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dan digunakan untuk melakukan kebaikan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

QS. Al-Baqarah ayat 195

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya:

"Dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."

Ayat ini mengajarkan kepada kita agar tidak melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri dan selalu berusaha menjaga keselamatan serta kesehatan.

Hadis tentang menjaga kesehatan

Rasulullah SAW bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

Artinya:

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah." (HR. Muslim).

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang muslim hendaknya berusaha menjadi pribadi yang kuat, baik dalam keimanan, semangat, maupun kemampuan menjaga kesehatan dan menjalankan kebaikan.

5. Contoh Kebiasaan Hidup Sehat dalam Kehidupan Sehari-hari

Waktu

Kebiasaan sehat

Pagi

Bangun tidur, beribadah, mandi, dan sarapan

Di sekolah

Belajar dengan semangat, minum air putih, dan menjaga kebersihan

Siang

Makan bergizi dan beristirahat

Sore

Berolahraga atau melakukan aktivitas fisik

Malam

Belajar, beribadah, mengurangi penggunaan gawai, dan tidur cukup

6. Kegiatan Praktik: Aku Siap Hidup Sehat

Anak-anak, sekarang mari kita membuat komitmen sederhana untuk menerapkan hidup sehat.

Setiap peserta didik diminta menyebutkan:

  • Satu kebiasaan sehat yang sudah dilakukan.

  • Satu kebiasaan kurang sehat yang ingin diperbaiki.

  • Tiga kebiasaan sehat yang akan diterapkan mulai hari ini.

Contoh:

"Saya akan membiasakan tidur tepat waktu, rajin berolahraga, makan makanan bergizi, serta berusaha mengelola emosi dengan baik."

G. AKTIVITAS PEMBELAJARAN

1. Joyful Learning (Pembelajaran Menyenangkan)

Permainan: Sehat atau Tidak Sehat?

Guru menyebutkan beberapa kebiasaan, kemudian peserta didik menentukan apakah kebiasaan tersebut termasuk perilaku sehat atau tidak sehat.

Contoh:

  • Rajin berolahraga. (Sehat)

  • Tidur terlalu larut setiap malam. (Tidak sehat)

  • Mengonsumsi makanan bergizi. (Sehat)

  • Mengejek teman. (Tidak sehat)

  • Bercerita kepada orang terpercaya ketika memiliki masalah. (Sehat)

2. Mindful Learning (Pembelajaran Berkesadaran)

Peserta didik diajak melakukan refleksi diri dengan memperhatikan kondisi tubuh dan perasaannya.

Pertanyaan refleksi:

  • Apakah saya sudah menjaga kesehatan tubuh?

  • Apakah saya sudah cukup beristirahat?

  • Bagaimana cara saya menghadapi rasa marah dan kecewa?

  • Apakah saya sudah memperlakukan teman dengan baik?

3. Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna)

Peserta didik membuat rencana kebiasaan hidup sehat yang dapat diterapkan di rumah dan sekolah.

Contoh: membuat jadwal olahraga, menjaga pola tidur, mengonsumsi makanan bergizi, serta membiasakan komunikasi yang positif.

H. REFLEKSI

Anak-anak, setelah mempelajari materi ini, mari kita renungkan:

  1. Apa yang saya pahami tentang kesehatan fisik dan psikis?

  2. Kebiasaan apa yang selama ini sudah saya lakukan untuk menjaga kesehatan?

  3. Kebiasaan apa yang perlu saya perbaiki?

  4. Bagaimana cara saya menjaga kesehatan pikiran ketika menghadapi masalah?

  5. Apa komitmen saya untuk menjadi pribadi yang lebih sehat?

Pesan refleksi: Kesehatan adalah nikmat dan amanah dari Allah SWT. Oleh karena itu, jagalah tubuh dan pikiran dengan kebiasaan yang baik.

I. ASESMEN

1. Asesmen Pengetahuan

Jawablah pertanyaan berikut dengan benar!

  1. Apa yang dimaksud dengan kesehatan fisik?

  2. Apa yang dimaksud dengan kesehatan psikis?

  3. Sebutkan tiga contoh kebiasaan menjaga kesehatan fisik!

  4. Sebutkan tiga cara menjaga kesehatan psikis!

  5. Mengapa kesehatan fisik dan psikis harus dijaga secara seimbang?

  6. Apa yang harus dilakukan ketika mengalami masalah yang membuat pikiran terbebani?

  7. Mengapa kita harus menjaga kesehatan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT?

2. Asesmen Sikap

Guru mengamati perilaku peserta didik selama kegiatan pembelajaran.

No.

Aspek yang Diamati

1

Menunjukkan kepedulian terhadap kesehatan diri

2

Aktif dalam kegiatan pembelajaran

3

Menghargai pendapat teman

4

Menunjukkan sikap positif

5

Bertanggung jawab terhadap kebiasaan hidup sehat

3. Asesmen Keterampilan

Peserta didik membuat poster sederhana dengan tema:

"Tubuh Sehat, Pikiran Kuat, Belajar Semangat".

Penilaian meliputi:

  • Kesesuaian isi dengan tema.

  • Kreativitas.

  • Kejelasan pesan.

  • Kemampuan menyampaikan hasil karya.

J. KESIMPULAN MATERI

Hidup sehat fisik dan psikis merupakan dua hal yang saling berkaitan dan harus dijaga secara seimbang. Kesehatan fisik dapat dipelihara melalui makanan bergizi, olahraga, istirahat cukup, dan kebersihan diri. Sementara itu, kesehatan psikis dapat dijaga dengan berpikir positif, mengelola emosi, bersyukur, beribadah, serta menjalin hubungan baik dengan orang lain.

Menjaga kesehatan merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri sekaligus wujud rasa syukur kepada Allah SWT.

K. KESIMPULAN HASIL PEMBELAJARAN

Setelah mengikuti kegiatan bimbingan klasikal, peserta didik diharapkan memahami pentingnya menjaga kesehatan fisik dan psikis, mampu mengenali kebiasaan yang baik dan kurang baik, serta memiliki kesadaran untuk menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Peserta didik diharapkan menjadi pribadi yang sehat, mandiri, disiplin, mampu mengelola emosi, dan bertanggung jawab terhadap kesehatan dirinya.

L. PESAN PENUTUP

Anak-anakku yang Bapak banggakan,

Ingatlah bahwa kesehatan adalah salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada kita. Jangan menunggu sakit untuk mulai menjaga kesehatan.

Mulailah dari hal-hal sederhana, seperti makan makanan bergizi, rajin berolahraga, tidur cukup, menjaga kebersihan, berpikir positif, mengelola emosi, serta menjaga hubungan baik dengan sesama.

Jika kalian sedang menghadapi masalah atau merasa terbebani, jangan ragu untuk bercerita kepada orang tua, guru, atau guru BK yang kalian percaya.

Jadilah pelajar yang sehat fisiknya, kuat mentalnya, baik akhlaknya, dan semangat belajarnya.

Semoga kita semua menjadi generasi yang sehat, cerdas, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi agama, keluarga, bangsa, dan negara.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Minggu, 25 Oktober 2026

MATERI BIMBINGAN KLASIKAL (BK) KELAS VII

KOMUNIKASI EFEKTIF

Communication Skills, Dialogue, and Active Listening: Unveil

Nama Guru: Yulian Wilyanus

Mata Pelajaran: Bimbingan Konseling

Fase/Kelas: D / VII

Materi: Komunikasi Efektif

A. CAPAIAN LAYANAN

Pada akhir Fase D, peserta didik mampu memahami dan mengembangkan potensi diri secara positif, memiliki kesadaran diri, mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab, serta menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama, moral, dan norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam layanan ini, peserta didik diarahkan untuk memahami pentingnya komunikasi efektif, mengembangkan keterampilan berbicara dan mendengarkan, menghargai pendapat orang lain, serta membangun hubungan yang positif dengan teman, guru, dan keluarga.

B. TUJUAN LAYANAN

Setelah mengikuti layanan bimbingan klasikal, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian komunikasi efektif.

  2. Mengidentifikasi ciri-ciri komunikasi yang baik.

  3. Mempraktikkan cara berbicara dengan jelas, sopan, dan percaya diri.

  4. Menunjukkan sikap mendengarkan secara aktif dan menghargai pendapat orang lain.

  5. Menyelesaikan kesalahpahaman melalui komunikasi yang santun.

  6. Menerapkan komunikasi efektif dalam kehidupan sehari-hari.

C. PENDEKATAN PEMBELAJARAN MENDALAM

1. Mindful Learning (Pembelajaran Berkesadaran)

Tujuan: Peserta didik menyadari cara berkomunikasi, memahami perasaan diri sendiri dan orang lain, serta mempertimbangkan dampak perkataannya.

Kegiatan:

  • Guru mengajak peserta didik melakukan jeda sejenak untuk menenangkan diri sebelum memulai pembelajaran.

  • Peserta didik mengingat pengalaman ketika merasa senang karena didengarkan atau kecewa karena diabaikan.

  • Peserta didik mengidentifikasi kebiasaan komunikasi yang perlu diperbaiki.

  • Peserta didik berlatih berhenti sejenak, berpikir, kemudian berbicara dengan santun.

Pertanyaan refleksi:

  • Apakah saya sering memotong pembicaraan orang lain?

  • Apakah saya sudah menggunakan kata-kata yang sopan?

  • Bagaimana perasaan orang lain ketika saya berbicara?

2. Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna)

Tujuan: Peserta didik menghubungkan materi komunikasi efektif dengan pengalaman nyata di sekolah, rumah, dan lingkungan pertemanan.

Kegiatan:

  • Guru menyampaikan kasus kesalahpahaman antarteman.

  • Peserta didik mendiskusikan penyebab masalah dan cara menyelesaikannya.

  • Peserta didik menghubungkan komunikasi efektif dengan kerja kelompok, hubungan keluarga, dan penggunaan media sosial.

  • Peserta didik menyusun komitmen untuk menerapkan satu kebiasaan komunikasi positif setiap hari.

Contoh kegiatan bermakna:

Seorang siswa merasa tersinggung karena pesan singkat temannya terdengar kasar. Alih-alih langsung marah atau membalas dengan kata-kata buruk, ia bertanya dengan sopan mengenai maksud pesan tersebut. Dengan demikian, kesalahpahaman dapat dicegah.

3. Joyful Learning (Pembelajaran Menyenangkan)

Tujuan: Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar peserta didik aktif, berani berbicara, dan mampu bekerja sama.

Medium

Kegiatan 1: Pesan Berantai

Peserta didik membentuk kelompok. Guru memberikan pesan kepada siswa pertama, lalu pesan diteruskan dari satu siswa ke siswa berikutnya. Siswa terakhir menyampaikan pesan yang diterimanya.

Diskusi: Mengapa pesan bisa berubah? Apa pentingnya menyampaikan informasi dengan jelas?

Mastering Communication Skills: Active Listening and Dialogu

Kegiatan 2: Bermain Peran (Role Play)

Peserta didik berpasangan untuk memeragakan situasi berbeda pendapat, meminta bantuan, atau meminta maaf.

Diskusi: Perilaku komunikasi apa yang sudah baik? Apa yang perlu diperbaiki?

Communication, Empathy, and Listening in K-12 Education - Education Briefs | Think Academy US

Kegiatan 3: Dua Bintang Satu Saran

Setiap peserta didik memberikan dua apresiasi atas komunikasi positif temannya dan satu saran perbaikan dengan bahasa yang santun.


D. MATERI PEMBELAJARAN

1. Pengertian Komunikasi Efektif

Komunikasi efektif adalah proses menyampaikan dan menerima pesan dengan jelas sehingga orang yang berkomunikasi dapat memahami maksud satu sama lain dengan baik.

Komunikasi tidak hanya dilakukan melalui kata-kata, tetapi juga melalui ekspresi wajah, nada suara, gerakan tubuh, tulisan, dan media digital.

Contoh:

Ketika seorang siswa tidak memahami tugas dari guru, ia berkata, “Maaf, Bu/Pak, saya belum memahami petunjuk tugasnya. Bolehkah dijelaskan kembali?”

Kalimat tersebut menunjukkan komunikasi yang sopan, jelas, dan bertujuan memperoleh pemahaman.

2. Ciri-Ciri Komunikasi Efektif

CLASSROOM RULES CARDS - Etsy

a. Berbicara dengan jelas

Menggunakan kata-kata yang mudah dipahami dan menyampaikan maksud secara teratur.

Contoh: “Tolong kumpulkan tugas kelompok besok sebelum pelajaran dimulai.”

Mastering Social and Small Talk Skills

b. Mendengarkan secara aktif

Memperhatikan orang yang berbicara, tidak memotong pembicaraan, dan memberikan tanggapan yang sesuai.

Contoh: Mendengarkan teman menjelaskan pendapatnya sampai selesai sebelum menjawab.

عميل غير مدعوم - Canva

c. Menggunakan bahasa yang santun

Memilih kata-kata yang sopan dan tidak menghina, mengejek, atau merendahkan orang lain.

Contoh: Mengatakan, “Menurut saya, ada cara lain yang bisa kita coba,” bukan “Pendapatmu salah dan tidak berguna.”

Wokeness in Schools: Students' Perspectives on Education Bal

d. Menghargai perbedaan pendapat

Memahami bahwa setiap orang dapat memiliki pemikiran yang berbeda.

Contoh: Menerima usulan teman dan mendiskusikan pilihan terbaik bersama.

3. Manfaat Komunikasi Efektif

Komunikasi efektif memiliki banyak manfaat, antara lain:

  • Mempererat persahabatan.

  • Mencegah kesalahpahaman.

  • Meningkatkan kerja sama dalam kelompok.

  • Membantu menyelesaikan konflik secara damai.

  • Meningkatkan rasa percaya diri.

  • Menciptakan suasana belajar yang nyaman.

  • Membantu peserta didik menyampaikan kebutuhan dan perasaan secara tepat.

4. Cara Menerapkan Komunikasi Efektif

Peserta didik dapat menerapkan langkah-langkah berikut.

  1. Pikirkan pesan sebelum berbicara. Pastikan perkataan sesuai dengan tujuan.

  2. Gunakan bahasa yang sopan. Hindari ejekan, hinaan, dan kata-kata kasar.

  3. Dengarkan dengan sungguh-sungguh. Berikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.

  4. Perhatikan nada suara dan ekspresi. Hindari nada yang membentak atau merendahkan.

  5. Sampaikan perasaan dengan tepat. Gunakan kalimat yang menjelaskan perasaan dan kebutuhan.

  6. Pastikan pesan dipahami. Tanyakan kembali apabila ada hal yang belum jelas.

  7. Gunakan media digital secara bertanggung jawab. Periksa isi pesan sebelum mengirimkannya dan hindari menyebarkan informasi yang belum benar.

5. Contoh Komunikasi Efektif dalam Kehidupan Sehari-hari

Situasi 1: Berbeda pendapat dengan teman

  • Komunikasi kurang efektif: “Pokoknya pendapatku yang paling benar!”

  • Komunikasi efektif: “Saya memahami pendapatmu. Bagaimana kalau kita membandingkan kedua ide agar mendapat keputusan terbaik?”

Situasi 2: Meminjam alat tulis

  • Komunikasi kurang efektif: “Hei, pinjam pensilmu!”

  • Komunikasi efektif: “Bolehkah saya meminjam pensilmu sebentar? Terima kasih.”

Situasi 3: Tidak sengaja menyinggung teman

  • Komunikasi kurang efektif: “Kamu terlalu sensitif!”

  • Komunikasi efektif: “Maaf, perkataan saya tadi membuatmu tidak nyaman. Saya akan lebih berhati-hati.”

Situasi 4: Berdiskusi dalam kelompok

Ketika teman sedang menyampaikan ide, anggota kelompok mendengarkan sampai selesai, mengajukan pertanyaan dengan sopan, dan memberikan tanggapan tanpa merendahkan.

6. Penguatan Nilai Agama

Allah Swt. mengajarkan umat manusia untuk berkata dengan perkataan yang baik.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 70:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

Ayat ini mengajarkan bahwa komunikasi harus dilakukan dengan perkataan yang benar, jujur, dan bertanggung jawab.

Rasulullah saw. juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan: Sebelum berbicara atau mengirim pesan, pikirkan apakah perkataan tersebut benar, bermanfaat, dan tidak menyakiti orang lain.


E. ASESMEN (PENILAIAN)

Asesmen dilakukan untuk mengetahui pemahaman, keterampilan, dan sikap peserta didik setelah mengikuti layanan BK.

1. Asesmen Diagnostik

Dilakukan sebelum pembelajaran untuk mengetahui kebiasaan komunikasi peserta didik.

Pertanyaan pemantik:

  1. Apa yang kamu lakukan ketika teman berbeda pendapat denganmu?

  2. Bagaimana sikapmu ketika orang lain sedang berbicara?

  3. Apa yang kamu lakukan ketika terjadi kesalahpahaman dengan teman?

2. Asesmen Formatif: Pilihan Ganda

Pilihlah jawaban yang paling tepat.

Kuis Komunikasi Efektif

0/10 dijawab

Pilih satu jawaban untuk setiap soal, lalu periksa hasilnya.

1. Komunikasi efektif adalah komunikasi yang ...

2. Ketika teman menyampaikan pendapat, sikap yang tepat adalah ...

3. Jika berbeda pendapat dengan teman, sebaiknya kita ...

4. Contoh komunikasi efektif kepada guru adalah ...

5. Ketika menerima pesan yang membuat kita kesal, sebaiknya kita ...

6. Salah satu manfaat komunikasi efektif adalah ...

7. Mendengarkan secara aktif berarti ...

8. Saat tidak sengaja menyinggung teman, kita sebaiknya ...

9. Sikap yang tepat saat berkomunikasi di media sosial adalah ...

10. Pesan utama QS. Al-Ahzab ayat 70 dalam materi ini adalah ...

Periksa jawaban

3. Asesmen Keterampilan: Praktik Komunikasi

Guru mengamati peserta didik saat bermain peran atau berdiskusi.

Aspek yang Dinilai

Skor 1–4

Berbicara dengan jelas

...

Menggunakan bahasa yang santun

...

Mendengarkan tanpa memotong pembicaraan

...

Menghargai pendapat orang lain

...

Menanggapi perbedaan dengan baik

...

Pedoman skor:

  • 4 = Sangat baik: dilakukan secara konsisten dan mandiri.

  • 3 = Baik: dilakukan dengan baik, sesekali memerlukan arahan.

  • 2 = Cukup: mulai menunjukkan keterampilan, tetapi masih perlu bimbingan.

  • 1 = Perlu bimbingan: belum menunjukkan keterampilan secara memadai.

Nilai praktik dapat dihitung dengan rumus:

\[ \text{Nilai}=\frac{\text{Skor diperoleh}}{20}\times100 \]

4. Asesmen Sikap dan Refleksi Diri

Berikan tanda centang pada kolom yang sesuai dengan kebiasaanmu.

Pernyataan

Ya

Belum

Saya mendengarkan teman ketika berbicara.

☐

☐

Saya menggunakan kata-kata yang sopan.

☐

☐

Saya menghargai pendapat yang berbeda.

☐

☐

Saya berusaha mengendalikan emosi sebelum berbicara.

☐

☐

Saya berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

☐

☐

Pertanyaan refleksi:

  1. Apa keterampilan komunikasi yang sudah saya kuasai?

  2. Apa kebiasaan komunikasi yang perlu saya perbaiki?

  3. Apa satu tindakan nyata yang akan saya lakukan mulai hari ini?

F. KESIMPULAN MATERI

Komunikasi efektif adalah kemampuan menyampaikan dan menerima pesan secara jelas, sopan, dan tepat sehingga orang yang berkomunikasi dapat saling memahami.

Komunikasi efektif dapat dilakukan dengan berbicara secara jelas, mendengarkan secara aktif, menggunakan bahasa yang santun, menghargai perbedaan pendapat, serta mengendalikan emosi. Keterampilan ini bermanfaat untuk membangun persahabatan, meningkatkan kerja sama, mencegah kesalahpahaman, dan menyelesaikan konflik secara damai.

Sebagai pelajar muslim, kita juga diajarkan untuk berkata benar dan baik, sebagaimana penguatan dalam QS. Al-Ahzab ayat 70 serta hadis tentang berkata baik atau diam.

G. KESIMPULAN PEMBELAJARAN

Setelah mengikuti layanan bimbingan klasikal, peserta didik diharapkan menyadari bahwa komunikasi efektif bukan hanya tentang berbicara, tetapi juga tentang mendengarkan, memahami perasaan orang lain, dan bertanggung jawab atas perkataan sendiri.

Melalui kegiatan Mindful Learning, peserta didik belajar menyadari perilaku komunikasinya. Melalui Meaningful Learning, peserta didik menghubungkan keterampilan komunikasi dengan kehidupan sehari-hari. Melalui Joyful Learning, peserta didik berlatih berkomunikasi dengan cara yang menyenangkan dan bekerja sama dengan teman.

Keberhasilan pembelajaran terlihat ketika peserta didik mampu menjelaskan prinsip komunikasi efektif, mempraktikkan percakapan yang santun, dan menunjukkan kemauan untuk memperbaiki kebiasaan komunikasinya.

H. PESAN PENUTUP

Anak-anakku yang Bapak banggakan,

Jadilah pelajar yang mampu berbicara dengan sopan, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan menghargai setiap orang. Ingatlah bahwa perkataan yang baik dapat menyenangkan hati, mempererat persahabatan, dan menciptakan lingkungan sekolah yang damai.

Mari membiasakan diri untuk berpikir sebelum berbicara, mendengarkan sebelum menjawab, dan menghargai sebelum menilai.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Rabu, 21 Oktober 2026

etika pergaulan

   A. IDENTITAS



Nama Guru

Yulian Wilyanus

Mata Pelajaran

Bimbingan Konseling

Hari/Tanggal

Rau, 21 Oktober 2026

Fase/Kelas

D / 7 B.

Judul Materi

Pergaulan dan Tata Krama

Pertemuan Ke-


B. CAPAIAN LAYANAN

Pada akhir Fase D, peserta didik mampu memahami dan mengembangkan potensi diri secara positif, memiliki kesadaran diri, mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab, serta menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama, moral, dan norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam layanan ini, peserta didik diarahkan untuk memahami etika pergaulan dan tata krama serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

C. TUJUAN LAYANAN

Setelah mengikuti layanan bimbingan klasikal, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian etika pergaulan dan tata krama.

  2. Mengidentifikasi perilaku yang baik dan kurang baik dalam pergaulan sehari-hari.

  3. Menunjukkan sikap sopan santun kepada orang tua, guru, teman, dan masyarakat.

  4. Menerapkan komunikasi yang santun secara langsung maupun melalui media sosial.

  5. Menghargai perbedaan pendapat, menjaga perasaan orang lain, dan menghindari perilaku perundungan.

  6. Membiasakan perilaku terpuji sesuai dengan ajaran Islam dan norma yang berlaku.

D. LAYANAN MENDALAM

1. Mindful (Berkesadaran)

Peserta didik mampu menyadari bahwa setiap perkataan dan tindakan memiliki dampak terhadap perasaan orang lain. Peserta didik memahami pentingnya menjaga sikap, ucapan, ekspresi, dan perilaku ketika berinteraksi dengan orang lain.

2. Meaningful (Bermakna)

Peserta didik mampu menghubungkan pemahaman tentang etika pergaulan dan tata krama dengan pengalaman sehari-hari, seperti menghormati guru, berbicara santun kepada orang tua, menghargai teman, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, serta menggunakan media sosial secara bijaksana.

3. Joyful (Menyenangkan)

Peserta didik terlibat aktif melalui kegiatan yang menyenangkan, interaktif, dan reflektif, seperti:

  • Permainan peran tentang perilaku sopan dan tidak sopan.

  • Diskusi kelompok mengenai etika bergaul dengan teman sebaya.

  • Kuis singkat tentang tata krama di sekolah dan media sosial.

  • Simulasi mengucapkan salam, meminta izin, mengucapkan terima kasih, dan meminta maaf.

  • Refleksi tentang kebiasaan baik yang akan diterapkan setiap hari.

E. ALUR TUJUAN LAYANAN

1. Eksplorasi dan Identifikasi

Peserta didik diajak mengenali:

  • Pengertian etika pergaulan dan tata krama.

  • Contoh perilaku sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.

  • Perbedaan perilaku yang menghargai orang lain dan perilaku yang menyakiti perasaan orang lain.

  • Pentingnya menghormati orang tua, guru, teman, dan masyarakat.

2. Analisis dan Kontekstualisasi

Peserta didik menganalisis situasi yang sering terjadi, seperti memotong pembicaraan, mengejek teman, menggunakan kata-kata kasar, tidak meminta izin, menyebarkan foto teman tanpa persetujuan, atau menulis komentar yang menyakitkan di media sosial.

Peserta didik mendiskusikan akibat dari perilaku tersebut dan menentukan cara menyikapinya secara santun, bijaksana, dan bertanggung jawab.

3. Sintesis dan Rekonstruksi

Peserta didik mengolah kembali pemahaman tentang etika pergaulan dan tata krama menjadi kebiasaan nyata, seperti berbicara sopan, menghormati orang lain, menjaga rahasia, meminta maaf ketika bersalah, serta membiasakan diri berpikir sebelum berbicara atau bertindak.

F. MATERI PEMBELAJARAN

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

الـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا وَحَبِيبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin, wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wa habiibinaa Muhammadin wa 'alaa aalihii wa shahbihii ajma'iin. Amma ba'du.

Anak-anakku yang Bapak banggakan,

Marilah kita bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita. Semoga kita senantiasa mendapatkan petunjuk-Nya agar menjadi pribadi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan mampu menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

Pada kesempatan ini, kita akan mempelajari materi “Etika Pergaulan dan Tata Krama.” Sebagai pelajar, kita tidak hanya dituntut untuk memiliki ilmu pengetahuan, tetapi juga harus memiliki sikap sopan santun, menghormati orang lain, serta mampu menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Ilmu yang tinggi akan semakin bermanfaat apabila disertai akhlak yang baik. Oleh karena itu, mari kita belajar membiasakan perilaku terpuji mulai dari hal-hal sederhana.

1. Pengertian Etika Pergaulan dan Tata Krama

Etika pergaulan adalah pedoman tentang perilaku yang baik dan pantas ketika berinteraksi dengan orang lain berdasarkan nilai moral, agama, dan norma yang berlaku.

Tata krama adalah aturan atau kebiasaan sopan santun yang diterapkan dalam berbicara, bersikap, dan bertindak ketika berhubungan dengan orang lain.

Dengan demikian, etika pergaulan dan tata krama merupakan pedoman bagi seseorang untuk membangun hubungan yang baik, saling menghormati, menjaga perasaan orang lain, dan menciptakan suasana yang nyaman dalam kehidupan bersama.

Contohnya adalah mengucapkan salam ketika bertemu, berbicara dengan bahasa yang sopan, meminta izin sebelum menggunakan barang orang lain, mendengarkan ketika orang lain berbicara, dan mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan.

2. Pentingnya Etika Pergaulan dan Tata Krama

Etika pergaulan dan tata krama sangat penting karena dapat membantu kita:

  1. Menumbuhkan rasa hormat. Kita belajar menghargai orang tua, guru, teman, dan orang lain tanpa membeda-bedakan.

  2. Membangun persahabatan yang sehat. Sikap sopan dan saling menghargai membantu menciptakan hubungan yang nyaman.

  3. Mencegah konflik. Berbicara dengan baik dan mendengarkan orang lain dapat mengurangi kesalahpahaman.

  4. Membentuk karakter positif. Tata krama melatih kita menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan rendah hati.

  5. Menjaga nama baik diri dan keluarga. Perilaku yang baik mencerminkan karakter seseorang.

  6. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Setiap orang merasa dihargai dan tidak takut menjadi sasaran ejekan atau penghinaan.

Ingatlah, sopan santun bukan hanya ditunjukkan ketika bertemu guru atau orang yang lebih tua, tetapi juga ketika bergaul dengan teman sebaya, adik kelas, petugas sekolah, dan orang lain.

3. Bentuk-Bentuk Etika Pergaulan dan Tata Krama

a. Tata krama kepada orang tua

  • Berbicara dengan lembut dan sopan.

  • Mendengarkan nasihat yang baik.

  • Membantu pekerjaan rumah sesuai kemampuan.

  • Meminta izin ketika hendak bepergian.

  • Mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan mereka.

b. Tata krama kepada guru

  • Mengucapkan salam ketika bertemu.

  • Mendengarkan penjelasan dengan baik.

  • Meminta izin sebelum meninggalkan kelas.

  • Mengajukan pertanyaan dengan bahasa yang santun.

  • Menghargai teguran dan arahan yang membangun.

c. Tata krama kepada teman

  • Menghargai perbedaan pendapat dan kemampuan.

  • Tidak mengejek nama, penampilan, keluarga, atau kekurangan teman.

  • Tidak memaksakan kehendak.

  • Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

  • Membantu teman yang mengalami kesulitan.

  • Tidak ikut menyebarkan gosip atau mempermalukan orang lain.

d. Tata krama di lingkungan masyarakat

  • Menghormati tetangga dan orang yang lebih tua.

  • Menjaga kebersihan dan ketertiban.

  • Mengantre dengan tertib.

  • Meminta izin sebelum meminjam barang.

  • Menghargai aturan yang berlaku di lingkungan sekitar.

e. Tata krama dalam menggunakan media sosial

  • Menggunakan bahasa yang sopan dalam komentar dan pesan.

  • Tidak menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.

  • Tidak mengunggah foto atau video orang lain tanpa izin.

  • Tidak menghina, mengancam, atau mempermalukan orang lain di dunia maya.

  • Menjaga informasi pribadi dan menghormati privasi orang lain.

  • Berpikir terlebih dahulu sebelum mengirim pesan atau mengunggah sesuatu.

Perlu diingat bahwa etika di dunia digital sama pentingnya dengan etika ketika berhadapan langsung. Tulisan yang kita kirimkan dapat memengaruhi perasaan dan kehidupan orang lain.

4. Allah SWT Mengajarkan Kita untuk Menjaga Etika dan Akhlak

Islam mengajarkan umatnya untuk berkata baik, menghormati sesama, dan menjauhi perilaku yang merendahkan orang lain.

a. Larangan mengejek dan merendahkan orang lain

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 11, petikan ayat)

Ayat ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh menghina, mengejek, atau merendahkan orang lain. Setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Dalam kehidupan sekolah, kita tidak boleh menjadikan kekurangan teman sebagai bahan candaan yang menyakitkan. Candaan yang membuat orang lain merasa direndahkan perlu dihentikan.

b. Berbicara dengan perkataan yang baik

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 83:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Artinya:

“Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83, petikan ayat)

Ayat tersebut mengingatkan kita untuk menjaga ucapan kepada siapa pun. Berbicara dengan baik bukan berarti harus selalu setuju dengan orang lain, melainkan menyampaikan pendapat dengan santun tanpa menghina atau menyakiti.

Ketika berbeda pendapat dengan teman, kita dapat mengatakan, “Menurut saya, ada pendapat lain yang bisa kita pertimbangkan,” daripada membentak atau mengejeknya.

c. Hadis Nabi Muhammad SAW tentang berkata baik

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang muslim harus berhati-hati dalam berbicara. Sebelum mengucapkan sesuatu, kita perlu memikirkan apakah perkataan tersebut bermanfaat, benar, dan tidak menyakiti orang lain.

Jika belum dapat berkata baik, lebih baik menahan diri daripada mengucapkan kata-kata kasar atau menyebarkan fitnah.

d. Hadis tentang akhlak yang baik

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim, makna hadis)

Hadis ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya dilihat dari kepandaian atau prestasinya, tetapi juga dari akhlaknya.

Pelajar yang baik adalah pelajar yang rajin belajar, menghormati guru, menyayangi teman, menjaga ucapan, dan bertanggung jawab atas tindakannya.

5. Perilaku yang Harus Dihindari dalam Pergaulan

Ada beberapa perilaku yang perlu dihindari agar hubungan dengan orang lain tetap baik.

Perilaku yang harus dihindari

Sikap yang sebaiknya dilakukan

Berbicara kasar

Menggunakan bahasa yang sopan

Mengejek teman

Menghargai perbedaan

Memotong pembicaraan

Mendengarkan sampai selesai

Memaksakan pendapat

Berdiskusi dan menghargai pendapat lain

Menyebarkan gosip

Menjaga rahasia dan memeriksa kebenaran informasi

Mengambil barang tanpa izin

Meminta izin terlebih dahulu

Menghina di media sosial

Menulis komentar yang santun atau tidak berkomentar

Tidak mengakui kesalahan

Meminta maaf dan memperbaiki perilaku

Apabila melihat teman diperlakukan secara tidak baik, jangan ikut mengejek atau menyebarkan kejadian tersebut. Berikan dukungan kepada teman yang menjadi sasaran, dan mintalah bantuan guru atau orang dewasa tepercaya apabila perilaku tersebut berulang atau membahayakan.

6. Cara Menerapkan Etika Pergaulan dalam Kehidupan Sehari-hari

Untuk membangun pergaulan yang sehat, kita dapat menerapkan kebiasaan berikut:

  1. Membiasakan mengucapkan salam ketika bertemu.

  2. Menggunakan kata “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih” pada waktu yang tepat.

  3. Mendengarkan orang lain tanpa memotong pembicaraan.

  4. Menghargai perbedaan agama, pendapat, kebiasaan, dan kemampuan.

  5. Menjaga rahasia serta tidak menyebarkan informasi pribadi orang lain.

  6. Mengakui kesalahan dan bersedia memperbaikinya.

  7. Memilih teman yang mendorong kita melakukan hal-hal positif.

  8. Menjaga sopan santun, baik di dunia nyata maupun di media sosial.

  9. Berpikir sebelum berbicara atau bertindak.

  10. Membiasakan diri berdoa dan memohon bimbingan Allah SWT agar memiliki akhlak yang mulia.

Perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Membiasakan satu perilaku baik setiap hari dapat membantu membentuk karakter yang lebih santun dan bertanggung jawab.

7. Aktivitas Reflektif: “Sudahkah Aku Bersikap Santun?”

Anak-anakku, cobalah perhatikan beberapa situasi berikut.

  • Ketika guru sedang menjelaskan, apakah kamu mendengarkan atau justru berbicara sendiri?

  • Ketika teman melakukan kesalahan, apakah kamu membantu atau malah mengejeknya?

  • Ketika pendapatmu berbeda dengan teman, apakah kamu tetap berbicara dengan sopan?

  • Ketika menerima pesan yang menghina seseorang, apakah kamu ikut menyebarkannya atau memilih tidak terlibat?

  • Ketika melakukan kesalahan, apakah kamu berani meminta maaf?

Pilihlah satu kebiasaan yang masih perlu diperbaiki. Tuliskan tindakan nyata yang akan kamu lakukan mulai hari ini.

Contoh komitmen: “Saya akan membiasakan diri berbicara sopan, tidak mengejek teman, mendengarkan orang lain, dan meminta maaf apabila melakukan kesalahan.”

G. KEGIATAN LAYANAN

1. Kegiatan Pembuka

Guru BK membuka kegiatan dengan salam dan doa, menyampaikan tujuan layanan, serta mengajak peserta didik berbagi contoh perilaku sopan santun yang pernah mereka lakukan atau lihat.

2. Kegiatan Inti

  • Guru BK menjelaskan pengertian dan pentingnya etika pergaulan.

  • Peserta didik mengamati contoh situasi pergaulan di sekolah dan media sosial.

  • Peserta didik berdiskusi dalam kelompok untuk menentukan perilaku yang tepat.

  • Setiap kelompok mempraktikkan dialog singkat tentang cara menyampaikan pendapat, meminta maaf, atau menyelesaikan kesalahpahaman dengan santun.

  • Guru BK memberikan penguatan berdasarkan nilai-nilai Islam dan norma yang berlaku.

3. Kegiatan Penutup

Peserta didik menyimpulkan materi, menyampaikan satu hal yang dipelajari, dan menuliskan satu kebiasaan baik yang akan diterapkan selama satu minggu ke depan. Guru BK memberikan motivasi dan menutup kegiatan dengan doa serta salam.

H. REFLEKSI

Jawablah pertanyaan berikut secara jujur.

  1. Apa yang saya pahami tentang etika pergaulan dan tata krama?

  2. Mengapa saya harus menghormati orang lain meskipun memiliki pendapat yang berbeda?

  3. Perilaku apa yang perlu saya perbaiki ketika bergaul dengan teman?

  4. Bagaimana cara saya menggunakan media sosial secara santun dan bertanggung jawab?

  5. Kebiasaan baik apa yang akan saya lakukan mulai hari ini?

I. PESAN PENUTUP

Anak-anakku yang Bapak banggakan,

Jadilah pelajar yang memiliki etika pergaulan dan tata krama yang baik. Hormatilah orang tua, sayangilah teman, hargailah guru, dan bersikaplah santun kepada siapa pun.

Ingatlah bahwa perkataan yang baik dapat menyenangkan hati orang lain, sedangkan perkataan yang buruk dapat menimbulkan luka dan perselisihan. Oleh karena itu, jagalah lisan, perilaku, dan tulisan kita, termasuk ketika menggunakan media sosial.

Jangan merasa hebat dengan merendahkan orang lain. Justru orang yang berakhlak mulia adalah orang yang mampu menghargai sesama, mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memperbaiki diri.

Mari kita jadikan sopan santun sebagai kebiasaan, bukan hanya dilakukan ketika diawasi guru atau orang tua. Semoga kita menjadi generasi yang cerdas, beriman, berakhlak mulia, dan mampu menciptakan pergaulan yang aman, nyaman, serta penuh rasa hormat.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Selasa, 20 Oktober 2026

Etika pergaulan dan Tata krama

  A. IDENTITAS



Nama Guru

Yulian Wilyanus

Mata Pelajaran

Bimbingan Konseling

Hari/Tanggal

Senin, 19 Oktober 2026

Fase/Kelas

D / 7 A, E.

Judul Materi

Pergaulan dan Tata Krama

Pertemuan Ke-


B. CAPAIAN LAYANAN

Pada akhir Fase D, peserta didik mampu memahami dan mengembangkan potensi diri secara positif, memiliki kesadaran diri, mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab, serta menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama, moral, dan norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam layanan ini, peserta didik diarahkan untuk memahami etika pergaulan dan tata krama serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

C. TUJUAN LAYANAN

Setelah mengikuti layanan bimbingan klasikal, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian etika pergaulan dan tata krama.

  2. Mengidentifikasi perilaku yang baik dan kurang baik dalam pergaulan sehari-hari.

  3. Menunjukkan sikap sopan santun kepada orang tua, guru, teman, dan masyarakat.

  4. Menerapkan komunikasi yang santun secara langsung maupun melalui media sosial.

  5. Menghargai perbedaan pendapat, menjaga perasaan orang lain, dan menghindari perilaku perundungan.

  6. Membiasakan perilaku terpuji sesuai dengan ajaran Islam dan norma yang berlaku.

D. LAYANAN MENDALAM

1. Mindful (Berkesadaran)

Peserta didik mampu menyadari bahwa setiap perkataan dan tindakan memiliki dampak terhadap perasaan orang lain. Peserta didik memahami pentingnya menjaga sikap, ucapan, ekspresi, dan perilaku ketika berinteraksi dengan orang lain.

2. Meaningful (Bermakna)

Peserta didik mampu menghubungkan pemahaman tentang etika pergaulan dan tata krama dengan pengalaman sehari-hari, seperti menghormati guru, berbicara santun kepada orang tua, menghargai teman, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, serta menggunakan media sosial secara bijaksana.

3. Joyful (Menyenangkan)

Peserta didik terlibat aktif melalui kegiatan yang menyenangkan, interaktif, dan reflektif, seperti:

  • Permainan peran tentang perilaku sopan dan tidak sopan.

  • Diskusi kelompok mengenai etika bergaul dengan teman sebaya.

  • Kuis singkat tentang tata krama di sekolah dan media sosial.

  • Simulasi mengucapkan salam, meminta izin, mengucapkan terima kasih, dan meminta maaf.

  • Refleksi tentang kebiasaan baik yang akan diterapkan setiap hari.

E. ALUR TUJUAN LAYANAN

1. Eksplorasi dan Identifikasi

Peserta didik diajak mengenali:

  • Pengertian etika pergaulan dan tata krama.

  • Contoh perilaku sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.

  • Perbedaan perilaku yang menghargai orang lain dan perilaku yang menyakiti perasaan orang lain.

  • Pentingnya menghormati orang tua, guru, teman, dan masyarakat.

2. Analisis dan Kontekstualisasi

Peserta didik menganalisis situasi yang sering terjadi, seperti memotong pembicaraan, mengejek teman, menggunakan kata-kata kasar, tidak meminta izin, menyebarkan foto teman tanpa persetujuan, atau menulis komentar yang menyakitkan di media sosial.

Peserta didik mendiskusikan akibat dari perilaku tersebut dan menentukan cara menyikapinya secara santun, bijaksana, dan bertanggung jawab.

3. Sintesis dan Rekonstruksi

Peserta didik mengolah kembali pemahaman tentang etika pergaulan dan tata krama menjadi kebiasaan nyata, seperti berbicara sopan, menghormati orang lain, menjaga rahasia, meminta maaf ketika bersalah, serta membiasakan diri berpikir sebelum berbicara atau bertindak.

F. MATERI PEMBELAJARAN

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

الـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا وَحَبِيبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.

Alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin, wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wa habiibinaa Muhammadin wa 'alaa aalihii wa shahbihii ajma'iin. Amma ba'du.

Anak-anakku yang Bapak banggakan,

Marilah kita bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita. Semoga kita senantiasa mendapatkan petunjuk-Nya agar menjadi pribadi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan mampu menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

Pada kesempatan ini, kita akan mempelajari materi “Etika Pergaulan dan Tata Krama.” Sebagai pelajar, kita tidak hanya dituntut untuk memiliki ilmu pengetahuan, tetapi juga harus memiliki sikap sopan santun, menghormati orang lain, serta mampu menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Ilmu yang tinggi akan semakin bermanfaat apabila disertai akhlak yang baik. Oleh karena itu, mari kita belajar membiasakan perilaku terpuji mulai dari hal-hal sederhana.

1. Pengertian Etika Pergaulan dan Tata Krama

Etika pergaulan adalah pedoman tentang perilaku yang baik dan pantas ketika berinteraksi dengan orang lain berdasarkan nilai moral, agama, dan norma yang berlaku.

Tata krama adalah aturan atau kebiasaan sopan santun yang diterapkan dalam berbicara, bersikap, dan bertindak ketika berhubungan dengan orang lain.

Dengan demikian, etika pergaulan dan tata krama merupakan pedoman bagi seseorang untuk membangun hubungan yang baik, saling menghormati, menjaga perasaan orang lain, dan menciptakan suasana yang nyaman dalam kehidupan bersama.

Contohnya adalah mengucapkan salam ketika bertemu, berbicara dengan bahasa yang sopan, meminta izin sebelum menggunakan barang orang lain, mendengarkan ketika orang lain berbicara, dan mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan.

2. Pentingnya Etika Pergaulan dan Tata Krama

Etika pergaulan dan tata krama sangat penting karena dapat membantu kita:

  1. Menumbuhkan rasa hormat. Kita belajar menghargai orang tua, guru, teman, dan orang lain tanpa membeda-bedakan.

  2. Membangun persahabatan yang sehat. Sikap sopan dan saling menghargai membantu menciptakan hubungan yang nyaman.

  3. Mencegah konflik. Berbicara dengan baik dan mendengarkan orang lain dapat mengurangi kesalahpahaman.

  4. Membentuk karakter positif. Tata krama melatih kita menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan rendah hati.

  5. Menjaga nama baik diri dan keluarga. Perilaku yang baik mencerminkan karakter seseorang.

  6. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Setiap orang merasa dihargai dan tidak takut menjadi sasaran ejekan atau penghinaan.

Ingatlah, sopan santun bukan hanya ditunjukkan ketika bertemu guru atau orang yang lebih tua, tetapi juga ketika bergaul dengan teman sebaya, adik kelas, petugas sekolah, dan orang lain.

3. Bentuk-Bentuk Etika Pergaulan dan Tata Krama

a. Tata krama kepada orang tua

  • Berbicara dengan lembut dan sopan.

  • Mendengarkan nasihat yang baik.

  • Membantu pekerjaan rumah sesuai kemampuan.

  • Meminta izin ketika hendak bepergian.

  • Mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan mereka.

b. Tata krama kepada guru

  • Mengucapkan salam ketika bertemu.

  • Mendengarkan penjelasan dengan baik.

  • Meminta izin sebelum meninggalkan kelas.

  • Mengajukan pertanyaan dengan bahasa yang santun.

  • Menghargai teguran dan arahan yang membangun.

c. Tata krama kepada teman

  • Menghargai perbedaan pendapat dan kemampuan.

  • Tidak mengejek nama, penampilan, keluarga, atau kekurangan teman.

  • Tidak memaksakan kehendak.

  • Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

  • Membantu teman yang mengalami kesulitan.

  • Tidak ikut menyebarkan gosip atau mempermalukan orang lain.

d. Tata krama di lingkungan masyarakat

  • Menghormati tetangga dan orang yang lebih tua.

  • Menjaga kebersihan dan ketertiban.

  • Mengantre dengan tertib.

  • Meminta izin sebelum meminjam barang.

  • Menghargai aturan yang berlaku di lingkungan sekitar.

e. Tata krama dalam menggunakan media sosial

  • Menggunakan bahasa yang sopan dalam komentar dan pesan.

  • Tidak menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.

  • Tidak mengunggah foto atau video orang lain tanpa izin.

  • Tidak menghina, mengancam, atau mempermalukan orang lain di dunia maya.

  • Menjaga informasi pribadi dan menghormati privasi orang lain.

  • Berpikir terlebih dahulu sebelum mengirim pesan atau mengunggah sesuatu.

Perlu diingat bahwa etika di dunia digital sama pentingnya dengan etika ketika berhadapan langsung. Tulisan yang kita kirimkan dapat memengaruhi perasaan dan kehidupan orang lain.

4. Allah SWT Mengajarkan Kita untuk Menjaga Etika dan Akhlak

Islam mengajarkan umatnya untuk berkata baik, menghormati sesama, dan menjauhi perilaku yang merendahkan orang lain.

a. Larangan mengejek dan merendahkan orang lain

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 11, petikan ayat)

Ayat ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh menghina, mengejek, atau merendahkan orang lain. Setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Dalam kehidupan sekolah, kita tidak boleh menjadikan kekurangan teman sebagai bahan candaan yang menyakitkan. Candaan yang membuat orang lain merasa direndahkan perlu dihentikan.

b. Berbicara dengan perkataan yang baik

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 83:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Artinya:

“Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83, petikan ayat)

Ayat tersebut mengingatkan kita untuk menjaga ucapan kepada siapa pun. Berbicara dengan baik bukan berarti harus selalu setuju dengan orang lain, melainkan menyampaikan pendapat dengan santun tanpa menghina atau menyakiti.

Ketika berbeda pendapat dengan teman, kita dapat mengatakan, “Menurut saya, ada pendapat lain yang bisa kita pertimbangkan,” daripada membentak atau mengejeknya.

c. Hadis Nabi Muhammad SAW tentang berkata baik

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang muslim harus berhati-hati dalam berbicara. Sebelum mengucapkan sesuatu, kita perlu memikirkan apakah perkataan tersebut bermanfaat, benar, dan tidak menyakiti orang lain.

Jika belum dapat berkata baik, lebih baik menahan diri daripada mengucapkan kata-kata kasar atau menyebarkan fitnah.

d. Hadis tentang akhlak yang baik

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim, makna hadis)

Hadis ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya dilihat dari kepandaian atau prestasinya, tetapi juga dari akhlaknya.

Pelajar yang baik adalah pelajar yang rajin belajar, menghormati guru, menyayangi teman, menjaga ucapan, dan bertanggung jawab atas tindakannya.

5. Perilaku yang Harus Dihindari dalam Pergaulan

Ada beberapa perilaku yang perlu dihindari agar hubungan dengan orang lain tetap baik.

Perilaku yang harus dihindari

Sikap yang sebaiknya dilakukan

Berbicara kasar

Menggunakan bahasa yang sopan

Mengejek teman

Menghargai perbedaan

Memotong pembicaraan

Mendengarkan sampai selesai

Memaksakan pendapat

Berdiskusi dan menghargai pendapat lain

Menyebarkan gosip

Menjaga rahasia dan memeriksa kebenaran informasi

Mengambil barang tanpa izin

Meminta izin terlebih dahulu

Menghina di media sosial

Menulis komentar yang santun atau tidak berkomentar

Tidak mengakui kesalahan

Meminta maaf dan memperbaiki perilaku

Apabila melihat teman diperlakukan secara tidak baik, jangan ikut mengejek atau menyebarkan kejadian tersebut. Berikan dukungan kepada teman yang menjadi sasaran, dan mintalah bantuan guru atau orang dewasa tepercaya apabila perilaku tersebut berulang atau membahayakan.

6. Cara Menerapkan Etika Pergaulan dalam Kehidupan Sehari-hari

Untuk membangun pergaulan yang sehat, kita dapat menerapkan kebiasaan berikut:

  1. Membiasakan mengucapkan salam ketika bertemu.

  2. Menggunakan kata “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih” pada waktu yang tepat.

  3. Mendengarkan orang lain tanpa memotong pembicaraan.

  4. Menghargai perbedaan agama, pendapat, kebiasaan, dan kemampuan.

  5. Menjaga rahasia serta tidak menyebarkan informasi pribadi orang lain.

  6. Mengakui kesalahan dan bersedia memperbaikinya.

  7. Memilih teman yang mendorong kita melakukan hal-hal positif.

  8. Menjaga sopan santun, baik di dunia nyata maupun di media sosial.

  9. Berpikir sebelum berbicara atau bertindak.

  10. Membiasakan diri berdoa dan memohon bimbingan Allah SWT agar memiliki akhlak yang mulia.

Perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Membiasakan satu perilaku baik setiap hari dapat membantu membentuk karakter yang lebih santun dan bertanggung jawab.

7. Aktivitas Reflektif: “Sudahkah Aku Bersikap Santun?”

Anak-anakku, cobalah perhatikan beberapa situasi berikut.

  • Ketika guru sedang menjelaskan, apakah kamu mendengarkan atau justru berbicara sendiri?

  • Ketika teman melakukan kesalahan, apakah kamu membantu atau malah mengejeknya?

  • Ketika pendapatmu berbeda dengan teman, apakah kamu tetap berbicara dengan sopan?

  • Ketika menerima pesan yang menghina seseorang, apakah kamu ikut menyebarkannya atau memilih tidak terlibat?

  • Ketika melakukan kesalahan, apakah kamu berani meminta maaf?

Pilihlah satu kebiasaan yang masih perlu diperbaiki. Tuliskan tindakan nyata yang akan kamu lakukan mulai hari ini.

Contoh komitmen: “Saya akan membiasakan diri berbicara sopan, tidak mengejek teman, mendengarkan orang lain, dan meminta maaf apabila melakukan kesalahan.”

G. KEGIATAN LAYANAN

1. Kegiatan Pembuka

Guru BK membuka kegiatan dengan salam dan doa, menyampaikan tujuan layanan, serta mengajak peserta didik berbagi contoh perilaku sopan santun yang pernah mereka lakukan atau lihat.

2. Kegiatan Inti

  • Guru BK menjelaskan pengertian dan pentingnya etika pergaulan.

  • Peserta didik mengamati contoh situasi pergaulan di sekolah dan media sosial.

  • Peserta didik berdiskusi dalam kelompok untuk menentukan perilaku yang tepat.

  • Setiap kelompok mempraktikkan dialog singkat tentang cara menyampaikan pendapat, meminta maaf, atau menyelesaikan kesalahpahaman dengan santun.

  • Guru BK memberikan penguatan berdasarkan nilai-nilai Islam dan norma yang berlaku.

3. Kegiatan Penutup

Peserta didik menyimpulkan materi, menyampaikan satu hal yang dipelajari, dan menuliskan satu kebiasaan baik yang akan diterapkan selama satu minggu ke depan. Guru BK memberikan motivasi dan menutup kegiatan dengan doa serta salam.

H. REFLEKSI

Jawablah pertanyaan berikut secara jujur.

  1. Apa yang saya pahami tentang etika pergaulan dan tata krama?

  2. Mengapa saya harus menghormati orang lain meskipun memiliki pendapat yang berbeda?

  3. Perilaku apa yang perlu saya perbaiki ketika bergaul dengan teman?

  4. Bagaimana cara saya menggunakan media sosial secara santun dan bertanggung jawab?

  5. Kebiasaan baik apa yang akan saya lakukan mulai hari ini?

I. PESAN PENUTUP

Anak-anakku yang Bapak banggakan,

Jadilah pelajar yang memiliki etika pergaulan dan tata krama yang baik. Hormatilah orang tua, sayangilah teman, hargailah guru, dan bersikaplah santun kepada siapa pun.

Ingatlah bahwa perkataan yang baik dapat menyenangkan hati orang lain, sedangkan perkataan yang buruk dapat menimbulkan luka dan perselisihan. Oleh karena itu, jagalah lisan, perilaku, dan tulisan kita, termasuk ketika menggunakan media sosial.

Jangan merasa hebat dengan merendahkan orang lain. Justru orang yang berakhlak mulia adalah orang yang mampu menghargai sesama, mengakui kesalahan, meminta maaf, dan memperbaiki diri.

Mari kita jadikan sopan santun sebagai kebiasaan, bukan hanya dilakukan ketika diawasi guru atau orang tua. Semoga kita menjadi generasi yang cerdas, beriman, berakhlak mulia, dan mampu menciptakan pergaulan yang aman, nyaman, serta penuh rasa hormat.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tidak mengejek • Tidak menghina • Tidak mengucilkan

  A. IDENTITAS Komponen Keterangan Nama Guru Yulian Wilyanus Mata Pelajaran Bimbingan Konseling Hari/Tanggal Selasa, 3 November 2026 Fase/Ke...